Kuliah Umum di Universitas Trisakti, Kapolda: Mahasiswa Berperan Penting Merawat Kebhinnekaan

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono di Universitas Trisakti, Jakarta, Minggu (18/8). (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Jakarta, Sayangi.com – Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono menjadi pembicara dalam kuliah umum yang dilaksanakan di Universitas Trisakti, Jakarta, Minggu (18/8). Dalam paparannya, Gatot mengingatkan, perlu kewaspadaan terhadap penyebaran radikalisme yang mungkin saja menyasar mahasiswa baru di berbagai universitas.

“Mereka baru lulus (dari SMA). Jadi anak-anak ini yang mencari jati diri dapat dipengaruhi oleh siapa pun,” ujar Gatot.

Menurut Gatot, peran mahasiswa cukup besar dalam merawat keberagaman dan kebhinnekaan. Karena tantangan bangsa Indonesia ke depan yang paling besar adalah masalah intoleransi, radikalisme, terorisme dan dikaitkan dengan media sosial.

“Keberagaman kita yang ada ini bisa terganggu. Oleh karena itu, ayo terus kita semaikan toleransi, keberagaman, jaga persatuan dan kesatuan bangsa ini,” ucapnya seraya mengajak.

Gatot juga mengatakan, jika masyarakat mulai mengangkat perbedaan, bukan tidak mungkin akan menjadi benih hancurnya bangsa Indonesia. Namun, apabila mengangkat kebersamaan dalam perbedaan, maka besar kemungkinan nama Indonesia tetap ada selamanya.

“Jika seandainya besok bumi ini kiamat, H-1 bangsa Indonesia akan tetap ada. Itu yang kita sampaikan pada generasi muda karena mereka calon pemimpin bangsa ini,” tegasnya.

Kebhinnekaan yang dimiliki bangsa Indonesia, kata Gatot, amat beragam dan terdiri atas banyak suku, agama, budaya, bahasa dan adat istiadat. Namun hal ini juga rentan dirusak oleh pihak yang tidak senang persatuan Indonesia.

“Ancaman tersebut bersumber dari dua faktor yaitu internal dan eksternal. Jika Indonesia menjadi negara besar apakah negara lain senang? Tentu saja tidak,” terangnya.

Lebih lanjut Gatot mengingatkan, ancaman eksternal bisa dalam bentuk yang ringan dan perlahan, hingga invasi militer secara terang-terangan. Awalnya, musuh dari luar mencoba mencari persoalan besar yang dihadapi bangsa yang akan dijajah.

“Misalnya, terdapat persoalan agama, suku, etnis dan sebagainya maka mereka akan mencoba mengangkat konflik di media sosial. Jika cara ini tidak berhasil maka selanjutnya mereka melaksanakan invasi militer,” jelasnya.

Sedangkan faktor internal, sambung Gatot, lebih mengarah pada persoalan yang muncul dari dalam negeri. Sebagai contoh pada 1998 Indonesia menetapkan dan memilih jalur demokrasi untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demokrasi idealnya diterapkan di masyarakat yang didominasi oleh kelas menengah. Hal ini karena mereka lebih rasional, kritis, dan menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik.

“Tapi pada kenyataannya, masyarakat Indonesia masih didominasi masyarakat ‘low class’ dari sisi ekonomi dan pendidikan. Sehingga demokrasi yang harusnya mandat untuk rakyat ternyata dimanipulasi oleh kelompok tertentu untuk kepentingan mereka,” pungkasnya.