Kuliah Umum di Binus, Kapolda Metro Ingatkan Bahaya Persebaran Hoaks

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono saat memberikan kuliah umum di Universitas Bina Nusantara, Jakarta Barat, Selasa (20/8). (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Jakarta, Sayangi.com – Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono mengatakan, kejahatan dunia maya yang ditangani polisi menunjukkan level yang terus meningkat. Jumlah kasus siber sepanjang Januari hingga Juli 2019 telah mencapai 1.136 kasus dan diprediksi terus meningkat.

“Dari Januari-Juli 2019 saja, ada 1.136. Ini disamping berita hoaks ujaran kebencian, juga hal-hal yang bersifat provokatif yang bisa mengadu domba dan lain sebagainya. Ini tantangan ke depan bagi kita semua,” ujar Gatot saat memberikan kuliah umum di Universitas Bina Nusantara, Jakarta Barat, Selasa (20/8).

Kapolda juga mengingatkan, generasi muda agar bijak menggunakan media sosial, sehingga terhindar dari berita yang tak dijamin kebenarannya.

“Kita harus bijak dalam menyikapi ini, karena kalau nggak bijak, akan terjadi disintegrasi bangsa. Apalagi bangsa kita beragam dan sangat mudah dicari perbedaannya,” jelasnya.

Dalam kuliah umum tersebut Gatot juga membahas Kejahatan Siber di Era Revolusi Industri 4.0. dan Revolusi Industri 5.0. Saat ini menurutnya ada dua kejahatan siber yang membahayakan generasi bangsa.

“Ada dua tipe cyber crime, pertama adalah computer assisted crime, kejahatan yang menggunakan komputer, seperti judi online, pornografi anak. Kedua, ada computer targeted crime, yaitu bagaimana berita berita hoaks disebarkan, narasi kebencian itu disampaikan, bagaimana penyebarannya, hingga dampaknya seperti apa,” paparnya.

Gatot juga menerangkan, kejahatan siber juga berpotensi menimbulkan gangguan keamanan, konflik sosial, bahkan disintegrasi bangsa Indonesia. Pasalnya, saat ini jika ingin menguasai negara lain tidak lagi menggunakan cara-cara konvensional.

“Jika suatu negara ingin menguasai negara lain, sekarang tidak lagi secara konvensional, militer dengan militer, tapi perang proxy. Salah satunya dengan media sosial,” katanya.

Baca Juga: Simposium KAMMI, Irjen Gatot Eddy Panjang Lebar Jelaskan Tantangan Demokrasi Indonesia

Lebih jauh Gatot juga memberi contoh kericuhan yang terjadi di Manokwari Papua Barat salah satunya dipicu berita hoaks. “Peristiwa unjuk rasa rusuh di Manokwari, dipicu karena adanya berita hoaks. Bahwa ada korban jiwa mahasiswa Papua di Surabaya,” imbuhnya.

Lebih lanjut Gatot, perkembangan hoaks dipicu banyaknya jumlah pengguna internet, namun tidak diimbangi dengan minat baca yang cukup. Apalagi dalam media sosial tidak mengenal batas-batas ruang dan waktu.

“Medsos tergantung kepentingan pembuat akun akan menyebarkan infonya,” tukasnya.

Baca Juga: Kuliah Umum di Universitas Trisakti, Kapolda: Mahasiswa Berperan Penting Merawat Kebhinnekaan