Brexit Makin Dekat,Inggris Boikot Sebagian Besar Pertemuan UE

Warga Inggris berdemontarsi didepan Jam Ben Londo.Foto Daily
Warga Inggris berdemontarsi didepan Jam Ben Londo.Foto Daily

London,Sayangi.com- Para menteri dan pejabat Inggris akan memboikot sebagian besar pertemuan Uni Eropa (UE). Pertemuan tersebut dijadwalkan akan dimulai 1 September 2019. Inggris akan menggunakan “jumlah waktu yang luar biasa” untuk berfokus kepada hubungan masa depan dengan UE dan negara-negara lain, termasuk kesepakatan perdagangan.

Para menteri hanya akan menghadiri pertemuan-pertemuan besar yang mencakup kepentingan mendasar seperti keamanan. Dan sebagian pertemuan akan diabaikan. Hal tersebut sebagai pesan yang jelas untuk menunjukkan keseriusan Inggris keluar dari UE pada akhir Oktober 2019.

Menteri Brexit Steve Barclay di London, Selasa (20/8) menegaskan sejumlah waktu yangterbatas dan upaya untuk menghadiri pertemuan-pertemuan UE hanya puncak dari gunung es.

Barclay juga mengatakan para pejabat Inggris sedang menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempersiapkan diri. Para pejabat tersebut tengah membaca dokumen yang dibutuhkan atau melakukan diskusi singkat terkait persiapan Brexit.

“Sejak saat ini kami hanya akan pergi ke pertemuan-pertemuan yang benar-benar penting. Kami mengurangi kehadiran setengah lebih acara dan menghemat ratusan jam,” ujarnya.

“Ini akan memberikan kelonggaran waktu bagi para menteri dan pejabat untuk mempersiapkan keberangkatan kami pada 31 Oktober dan mengambil peluang di depan,” tambah Barclay.

Dengan sisa 72 hari menjelang Brexit, banyak diskusi dalam pertemuan di kantor UE. Pertemuan tersebut membahas tentang masa depan UE setelah ditinggalkan Inggris. Ini membuat partisipasi Inggris dalam banyak pertemuan di UE menjadi tidak relevan.

Para pejabat Inggris menyatakan persiapan Brexit, kesepakatan perdagangan baru. Inggris akan mempromosikan “Inggris Global” sebagai prioritas utama negara itu saat ini. Sumber-sumber pemerintah menyatakan keputusan itu bukan untuk menggagalkan fungsi UE, tapi mencerminkan realitas persiapan yang dilakukan Inggris.

sumber: Reuters