Tangani Demontsran Kepolisian Hongkong Mulai Gunakan Senjata Api

Polisi Hongkong menggunakan senjata api. Foto Hongkong Free Press
Polisi Hongkong menggunakan senjata api. Foto Hongkong Free Press

Hongkong,Sayangi.com- Hong Kong mengungkapkan pihaknya terpaksa menggunakan senjata api untuk melepaskan tembak­an peringatan. Tindakan itu dilakukan untuk menghalau aksi demonstran yang menurutnya semakin anarkistis.

Melalui keterangan resmi kemarin (26/8) mengungkapkan , petugas kepolisian mengaku terpojok aksi pe­ngunjuk rasa yang membawa batu bata dan senjata lainnya. Seorang petugas terjatuh ke tanah di bawah serangkaian pukulan. “Posisi petugas terancam dan terpaksa me­ngeluarkan tembakan peringatan.

Protes prodemokrasi yang berlangsung berbulan-bulan di Hong Kong kini cenderung mengarah pada keke­rasan. Bentrokan pada Minggu (25/8) di pinggiran Tsuen Wan menjadi yang terparah. Dilaporkan kondisi tersebut merupakan kerusuhan politik yang telah berlangsung selama 12 pekan terakhir. Dilaporkan 15 petugas dinyatakan terluka dalam bentrokan tersebut,namun tak disebutkan berapa yang terluka dari pihak demonstarn.

Laporan hanya menyebutkan puluhan demonstran ditangkap, termasuk yang berusia 12 tahun. Selain melakukan aksi protes secara tidak sah, mereka juga didakwa membawa senjata dan menyerang petugas.

Serangkaian tembakan dari polisi ini langsung memicu kemarahan pengguna jejaring sosial. Mereka mendukung sikap demonstran yang berani melawan dan membuat petugas kepolisian tersudut. “Jika kepolisian tidak bisa mengendalikan emosi, bagaimana mereka bisa gagah berani dan mengendalikan situasi?” cetus seorang pengguna Facebook.

Gerakan protes di Hong Kong dipicu langkah pemerintah kota yang mengeluarkan rancangan undang-undang yang memungkinkan warga Hong Kong diekstradisi ke Tiongkok. Protes kini meluas ke tuntutan demokrasi dan akuntabilitas kepolisian.

Para pengunjuk rasa, khususnya generasi muda, juga mengalami ke­gelisahan akibat biaya hidup tinggi dan minimnya lapangan kerja. Penduduk Hongkong memandang masa depan wilayah semiotonom itu terancam pembatasan dari Beijing. Gerakan protes menyebut strategi Tiongkok di wilayah mereka sebagai ‘teror putih’.
Sumber: AFP