Imbas Demontrasi Hongkong : Pelajar Boikot Sekolah

Para pelajar Hongkong berbaur dengan demonstran. Foto AF
Para pelajar Hongkong berbaur dengan demonstran. Foto AF

Hongkong,Sayangi.com- Setelah satu minggu, Hongkong memperlihatkan kekerasan sipil terburuk sepanjang dasawarsa. Dilaporkan demonstran melemparkan batu dan bom molotov kepada polisi, yang dibalas dengan tembakan gas air mata, meriam air, dan pukulan tongkat.

Efek peristiwa tersebut siswa sekolah di Hong Kong, Senin (2/9), memboikot hari pertama sekolah di tahun ajaran baru dengan ikut berunjuk rasa. Pelajar menjadi tumpuan dari gerakan yang muncul menentang pemerintah yang berencana memperbolehkan ekstradisi ke Tiongkok, tapi berubah menjadi protes yang meluas melawan kepemimpinan yang tidak dipilih yang pro-Beijing.

Ratusan demonstran ditangkap oleh polisi dalam bentrokan yang berujung kekerasan dan teriakan protes terus meningkat sejak Beijing menjuluki para pengunjuk rasa ‘teroris’, dengan salah satu kantor berita Tiongkok yang memuat tajuk Akhir akan Tiba.

Pada Senin (2/9), saat perguruan tinggi memulai ajaran baru setelah libur musim panas, justru ratusan pelajar boikot kelas justru berkumpul di pusat Hong Kong.

“Hari ini merupakan hari pertama sekolah, tapi saya ingin keluar,” ujar Tommy, seorang pelajar perguruan tinggi berumur 19 tahun kepada AFP. Saya pikir kita tidak akan ketinggalan (pelajar) apa pun. Ini juga merupakan salah satu bentuk pembelajaran.”

Senin dini hari tuntutan semakin tidak terbendung, polisi huru-hara pun berpatroli ke beberapa stasiun subway. Patroli polisi terjadi setelah aksi protes mengganggu layanan kereta bawah tanah di saat jam sibuk pagi hari dengan cara mencegah pintu kereta tertutup.

Di tempat yang lain, pelajar kelas menengah membentuk rantai di sekolah dan perawat berbaris di koridor rumah sakit dengan membawa baliho prodemokrasi sebagai bentuk protes kilat untuk menunjukkan dukungan kepada gerakan antipemerintah.

“Hong Kong ialah rumah kita. Kita merupa­kan masa depan bagi kota dan kita memiliki tanggung jawab untuk menjaganya,” ujar salah seorang pelajar kelas menengah yang menyebut dirinya Wong.

Salah satu perawat yang enggan disebut namanya menyebut aksi protes hancur karena Tiongkok enggan untuk menyerah. Tapi kita harus bertahan dan menyuarakan sesuatu. Setidaknya, kita telah menunjukkan kepada dunia apa yang terjadi,” ujarnya kepada AFP.