Polisi Ungkap Sindikat Penyelundupan Pakaian Bekas Asal Tiongkok, Kerugian Ditaksir Rp 9 Miliar

Jakarta, Sayangi.com – Subdit Indag Ditreskrimsus Polda Metro Jaya berhasil membongkar kasus penyelundupan tekstil dan pakaian bekas asal China. Dalam kasus ini, polisi menangkap enam orang berinisial PL (63), H (30), AD (33) EK (44), NS (47), dan TKD (45).

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono mengatakan, sindikat ini telah menjalankan bisnisnya selama bertahun-tahun. Tidak main-main, kerugian negara akibat aksi sindikat ini mencapai Rp 9 miliar.

Untuk menyelundupkan pakaian dan baju dari Tiongkok, para tersangka memanfaatkan jalur laut. Dari Tiongkok, barang-barang tersebut dilarikan melalui Pelabuhan Pasir Gudang Johor, Malaysia.

“Dari sana, barang-barang dikirim ke Pelabuhan Kuching, Serawak dan dibawa menggunakan truk ke perbatasan Indonesia, yaitu Jagoi Babang, Kalimantan Barat,” ujar Gatot di Mapolda Metro Jaya, Kamis (12/9).

Setelah itu, kata Gatot, barang ilegal ini diangkut menggunakan truk jenis fuso dari Pontianak melalui Pelabuhan Dwikora. Kemudian barang diangkut menggunakan kapal Fajar Bahari dan masuk ke Pelabuhan Tegar Marunda Center, Kabupaten Bekasi.

Para tersangka berhasil diringkus dari tiga lokasi berbeda, ada yang ditangkap di Pelabuhan Tegar Marunda Center, Kabupatan Bekasi. Ada yang ditangkap di kawasan Kramat, Senen, Jakarta Pusat dan di Gudang Rukan Permata Ancol, Pademangan, Jakarta Utara.

Lebih lanjut Gatot menjelaskan, dari tangan para tersangka pihaknya turut menyita sejumlah barang bukti hasil kejahatan. Barang bukti tersebut diantaranya pakaian bekas, tas dan sepatu berbagai merek.

“Kita sita barang bukti 438 gulungan tekstil (bahan kain), 259 koli balpress berisi pakaian baru, pakaian bekas dan tas bekas, 5.668 koli sepatu berbagai merek kurang lebih 120 ribu pasang sepatu,” paparnya.

Akibat perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 104, Pasal 106, Pasal 111, Pasal 112 ayat 2 Undang-undang RI Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, dengan ancaman pidana penjara lima tahun dan denda maksimal Rp 5 miliar. Kemudian, Pasal 62 ayat 1 dan 2 UU Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman pidana penjara lima tahun dan denda maksimal Rp 2 miliar