PM Israel Netanyahu dan Benny Gantz Hadapi Kebuntuan Politik

Benny Gantz (gambar kiri) saingan terberat PM Israel Netanyahu dalam pemilu 2019. Foto The Time of Israel
Benny Gantz (gambar kiri) saingan terberat PM Israel Netanyahu dalam pemilu 2019. Foto The Time of Israel

Tel Aviv, Sayangi.com- PM Israel Benjamin Netanyahu dan penantang utamanya, Benny Gantz, menemui jalan buntu. Kebubtuan tersebut terjadi pda , Rabu (18/9), setelah pemilihan umum Israel.Kebuntuan telah meningkatkan kemungkinan pembentukan pemerintah persatuan, atau bahkan akhir dari pemerintahan panjang Netanyahu.

Berbagai media Israel melaporkan partai sayap kanan Netanyahu, Likud, dan aliansi Gantz, Blue and White, meraup 32 kursi masing-masing dari 120 kursi Knesset (parlemen Israel) dengan lebih dari 90% suara dihitung.

Hasil yang tidak memberikan jalan yang jelas untuk membentuk koalisi mayoritas, meningkatkan kemungkinan negosiasi menuju pemerintahan persatuan.

Jika prediksi angka akurat, itu akan menjadi kemunduran besar bagi Netanyahu, yang berharap untuk membentuk koalisi sayap kanan mirip dengan yang sekarang ini saat ia menghadapi kemungkinan tuduhan korupsi.

Dengan suara serak dan tampak kuyu setelah berhari-hari kampanye yang intens, Netanyahu berbicara di hadapan para pendukung pada dini hari Rabu, dan mengatakan siap untuk negosiasi untuk membentuk pemerintah Zionis yang kuat.

Dalam pidatonya kepada para pendukung di Tel Aviv, Gantz menyerukan pemerintah persatuan yang luas, tetapi memperingatkan ia juga sedang menunggu hasil akhir. “Kami akan bertindak untuk membentuk pemerintah persatuan yang luas yang akan mengekspresikan keinginan rakyat,” ujarnya. “Kami akan memulai negosiasi, dan saya akan berbicara dengan semua orang,” timpal mantan jenderal berusia 60 tahun itu.

Partai nasionalis tempat mantan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman bernaung, Yisrael Beitenu, diprediksi mendapatkan sembilan kursi. Laporan sementara menyebutkan aliansi Joint List yang sebagian besar warga Arab, diprediksi untuk menjadi kekuatan terbesar ketiga di parlemen dengan 12 kursi.

Hasil itu menempatkan partai-partai Arab dalam posisi untuk memblokade Netanyahu dari melanjutkan jabatan sebagai perdana menteri jika mereka memutuskan untuk mendukung Gantz. Namun partai-partai Arab Israel secara tradisional tidak mengajukan siapa pun untuk jabatan perdana menteri.

“Perbedaan utama dalam pemungutan suara ini ialah jumlah pemilih di antara warga negara Arab,” kata pemimpin Joint List, Ayman Odeh. Tanpa hal itu, Netanyahu sudah pasti melenggang kembali menjadi perdana menteri.

sumber: AFP