Isu Perdamaian Bakal Mewarnai Sidang Umum PBB

Suasana Sidang Umum PBB di New York. Foto AP
Suasana Sidang Umum PBB di New York. Foto AP

Washington,Sayangi.com- Gobal warming dan upaya mengatasi perubahan iklim akan menjadi sorotan utama saat para pemimpin dunia berkumpul dalam Sidang Majelis Umum PBB. Sidang itu dilatarbelakangi fenomena tak terbantahkan yaitu meningkatnya ketegangan dari Teluk Persia hingga ke Afghanistan, meningkatnya rasa nasionalisme, ketidaksetaraan, dan intoleransi.

Tumbuhnya ketakutan akan tindakan militer –terutama dalam menanggapi serangan baru-baru ini terhadap beberapa instalasi minyak Arab Saudi yang merupakan pemasok energi dunia– akan tergantung pada sidang PBB tahun ini.

Kegelisihan dunia ini diperburuk oleh konflik dan krisis global, dari Suriah dan Yaman, hingga ke Venezuela; dari perselisihan antara Israel-Palestina hingga kebuntuan perundingan Pakistan-India atas Kashmir.

Seluruh perhatian akan diarahkan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani, yang negaranya sedang terlibat ketegangan, untuk melihat apakah mereka dapat mengurangi kekhawatiran akan terjadinya konfrontasi, yang berdampak pada Timur Tengah dan di wilayah-wilayah lain. Apakah kedua pemimpin negara  akan bertemu, masih menjadi pertanyaan.

“Dunia kita, yang penuh keributan, membutuhkan kerjasama internasional lebih erat dibanding sebelumnya,” ujar Sekjen PBB Antonio Guterres, seperti dilaporkan Associated Press, Senin (23/9/2019). Namun bila hanya mengatakan hal itu, tidak akan mewujudkannya. Mari kita hadapi hal itu. Kita tidak punya waktu untuk kalah,himbau Guterres.

Sidang Umum PBB tahun ini, yang dimulai Selasa, (30/9/2019). Sidang kali ini akan diikuti oleh 136 pemimpin dari 193 negara anggota PBB. Besarnya jumlah pemimpin yang hadir mencerminkan meningkatnya fokus dunia untuk mengatasi perubahan iklim dan kondisi perdamaian dan keamanan yang di ujung tanduk.

Negara-negara lain akan diwakili oleh para menteri dan wakil presiden, kecuali Afghanistan, yang pemimpin-pemimpinnya sedang berkampanye menjelang pemilu presiden 28 September.

Juga Korea Utara, yang menurunkan wakil yang dikirimnya, dari menteri menjadi duta besar. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga membatalkan rencana menghadiri sidang ini dan mengirim menteri mereka. Minggu  lalu, Guterres kembali mengulangi peringatannya bahwa ketegangan sedang memuncak.

“Dunia berada dalam saat-saat kritis di sejumlah hal: darurat iklim, meningkatnya ketidaksetaraan, meningkatnya kebencian dan intoleransi, dan sejumlah tantangan keamanan dan perdamaian yang mengkhawatirkan.”

“Dengan begitu banyak raja, presiden, dan perdana menteri yang datang tahun ini, kami berkesempatan memajukan diplomasi bagi perdamaian. Inilah saat mendinginkan ketegangan.” ujar Guterres. Namun tidak banyak  para diplomat yang optimis akan himbauan sekjen PBB Guterres.