Ingin Langgengkan Kekuasaan Trump Lobi Presiden Ukraina Diskreditkan Biden

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy (gambar kiri) dan Presiden AS Donald Trump. Foto National Review
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy (gambar kiri) dan Presiden AS Donald Trump. Foto National Review

Washington,Sayangi.com- Presiden Amerika Serikat Donald Trump terbukti pernah meminta presiden Ukraina untuk menyelidiki mantan Wakil Presiden Joe Biden. Trump meminta presiden Ukraina Presiden Volodymyr Zelenskiy untuk berkoordinasi dengan Jaksa Agung AS dan pengacara pribadi Trump.

Bukti permintaan itu terungkap dalam ringkasan panggilan telepon penting yang dirilis pemerintahan Tump kemarin. Rekaman asli selama setengah jam pada bulan Juli itu mengungkapkan permintaan untuk saling membantu di antara mereka seperti dikutip Reuters, Kamis (26/9/2019).

Permintaan itu termasuk yang tidak terkait dengan Biden yang kini maju menjadi bakal calon presiden AS sebagai pesaing Trump pada pemilu tahun depan. Salah satunya adalah ketika dalam pembicaraan telepon Trump meminta Presiden Volodymyr Zelenskiy “untuk membantu kita” terkait dengan isu kontroversi seputar Pilpres 2016 ketika masa kampanye calon presiden AS.

Ringkasan pembicaraan kedua petinggi negara itu dirilis sehari setelah Ketua DPR AS, Nancy Pelosi mengatakan pihaknya akan memulai penyelidikan resmi untuk proses pemakzulan atas Trump. Keputusan ini bakal memicu perseteruan politik dan mengancam presiden AS tersebut ketika memasuki masa kampanye Pilpres 2020.

Rincian dari panggilan telepon pada 25 Juli tersebut juga menimbulkan reaksi kemarahan dari kalangan Partai Demokrat. Mereka menuduh Trump yang merupakan calon terdepan di antara kandidat Demokrat yang berusaha menantang presiden Republik dalam pemilihan November 2020.

Permintaan Trump kepada Zelenskiy itu dilakukan setelah dia memerintahkan pembekuan hampir US$400 juta bantuan Amerika AS untuk Ukraina. Pada akhirnya bantuan tersebut dicairkan pemerintah Trump.

“Apa yang tercermin dalam catatan-catatan itu adalah pelibatan seorang pemimpin asing seperti dalam operasi mafia klasik,” kata anggota Partai Demokrat Adam Schiff yang menjadi ketua Komite Intelijen DPR.