Rencana Pelemparan Molotov Saat Aksi Mujahid 212, Polisi Tetapkan 10 Tersangka

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo. (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Jakarta, Sayangi.com – Polisi telah menetapkan 10 orang sebagai tersangka kasus rencana pelemparan bom molotov, dalam aksi unjuk rasa Mujahid 212, Sabtu (29/9). Mereka adalah S, OS, JAF, AL, AD, YF, FEB, SAM, ALI dan seorang oknum dosen IPB berinisial AB.

Karopenmas Divhmas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menjelaskan, dalam kelompok tersebut, AB bertugas merekrut dua pelaku lain, yakni OS dan S. Sementara S diminta AB untuk mencari eksekutor dan pembuat bom.

“AB ini merekrut dua orang atas nama S dan OS. S berperan mencari orang yang memiliki kemampuan membuat bom,” ujar Dedi di Mabes Polri, Selasa (1/10).

Setelah itu, sambung Dedi, S merekrut empat orang lainnya, yakni JAF, AL, AD, dan SAM. Mereka berperan sebagai perakit bom, sekaligus akan melakukan pelemparan bom di tengah aksi unjuk rasa Mujahid 212.

“Sedangkan OS direkrut untuk menerima dana yang akan digunakan oleh eksekutor untuk menciptakan kerusuhan di tengah demo,” jelasnya.

Dedi menerangkan, OS merekrut tiga orang lain, yakni YF, AL dan FEB. FEB sendiri ditugaskan menerima uang untuk membeli bahan peledak dan biaya operasional.

“Ini sudah jelas master mind-nya siapa, second line-nya siapa, operator di lapangan siapa. Mulai dari perakit dan eksekutor,” jelasnya.

Lebih jauh Dedi menjelaskan, pihaknya masih mendalami lebih jauh motif di balik rencana dari para tersangka. Atas perbuatannya kesepuluh tersangka dijerat dengan Pasal 169 KUHP dan Pasal 1 ayat (1) UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

“Ada beberapa pasal yang diterapkan di sini sesuai dengan perbuatan masing-masing di sini cukup banyak. Baik pasal terkait menyangkut masalah UU Darurat kepemilikan terhadap bahan peledak,” paparnya.

Diberitakan sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang Kota AKBP Dicky Ario Yustisianto mengatakan pihaknya hanya sebagai pendukung penangkapan itu. Penangkapan dilakukan oleh Polda Metro Jaya dan Detasemen Khusus (Densus) 88.

“Polres hanya backup. Semua giat dilakukan oleh Jatanras Krimum PMJ dan Densus 88. Kami juga tidak diperbolehkan untuk mengambil dokumentasi,” kata Dicky saat dikonfirmasi, Minggu malam.