Polisi Tetapkan Sekretaris PA 212 Sebagai Tersangka Penganiayaan Ninoy Karundeng

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono. (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Jakarta, Sayangi.com – Polda Metro Jaya resmi menetapkan Sekretaris Persaudaran Alumni (PA) 212 Bernard Abdul Jabbar sebagai tersangka, atas kasus penganiayaan terhadap pegiat media sosial Ninoy Karundeng.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, saat ini Bernard telah ditahan di Rutan Mapolda Metro Jaya.

“Yang bersangkutan ada di lokasi dan dia ikut mengintimidasi daripada korban,” ujar Argo di Apartemen Robinson, Penjagalan, Jakarta Utara, Selasa (8/10).

Hingga saat ini, kata Argo, pihaknya telah menetapkan 13 tersangka dalam kasus penganiayaan Ninoy Karundeng. Namun hanya 12 tersangka yang telah ditahan, sementara tersangka berinisial TR belum ditahan.

Mereka yang ditetapkan sebagai tersangka adalah AA, ARS, YY, RF, Baros, S, TR, SU, ABK, IA, R, Fery alias F dan Bernard Abdul Jabbar.

“Bahwa dari Polda Metro sudah menetapkan 13 tersangka dan 12 orang dilakukan penahanan, yang satu tidak karena sakit,” jelasnya.

Polisi, sambung Argo, menjerat Bernard dengan Undang-undang ITE. Pasalnya yang bersangkutan terbukti menyebarkan video tersebut ke sosial media.

“Jadi dia yang menyebarkan video ke sosial media. Untuk itu Bernard ganjar UU ITE,” jelasnya.

Dari 13 tersangka penganiayaan Ninoy Karundeng, terdapat tiga orang wanita. Ketiga wanita tersebut juga dijerat dengan UU ITE.

Selain itu, Argo menuturkan tidak hanya Bernard yang ikut ditetapkan sebagai tersangka. Ada juga perempuan yang terlibat dalam kasus penganiayaan tersebut.

“Ada perempuan juga, ada 3 orang yang sudah kita kenakan Undang-undang ITE,” jelas Argo.

Seperti diketahui, Ninoy Karundeng menjadi korban penganiayaan sejumlah orang tak dikenal.
Kejadian yang menimpa Ninoy terjadi pada Senin (30/9) malam.

Saat itu, Ninoy yang tengah berkendara sepeda motor ke arah Pejompongan, Jakarta Pusat bertemu massa aksi yang sedang mengangkut rekannya karena terkena gas air mata. Melihat kejadian tersebut, Ninoy lantas memotretnya.

Massa yang tidak senang dengan perilaku Ninoy kemudian langsung merampas dan memeriksa isi ponselnya. Massa menuding jika Ninoy kerap menyerang lawan politiknya di media sosial.