Nobel Perdamaian 2019 Diraih PM Ethiopia Abiy Ahmed

PM Ethiopia Abiy Ahmed. Foto Getty Image
PM Ethiopia Abiy Ahmed. Foto Getty Image

New York,Sayangi.com- Komite Nobel di Oslo, Norwegia, Jumat (11/10/2019), mengumumkan pemenang nobel perdamaian 2019. Nobel Perdamaian 2019 kali jatuh ke Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed.

Pria 43 tahun itu mengalahkan aktivis lingkungan Swedia, Greta Thunberg, yang justru lebih dijagokan. Komunitas internasional pun beraksi atas kemenangan yang tak terduga itu.

Sekjen PBB Antonio Guterres memberikan selamat kepada Abiy sebagai pememang Hadiah Nobe Perdamaian 2019. Guterres memuji upaya Abiy dalam berdamai dengan musuh bebuyutan negaranya, Eritrea, dan bahkan mengilhami munculnya stabilitas keamanan di kawasan afrika.

Pemulihan hubungan bersejarah antara kedua negara, kata Guiterres, membuka peluang baru di kawasan yakni Afrika Timur untuk menikmati keamanan dan stabilitas.

“Kepemimpinan Abiy telah menjadi contoh luar biasa bagi orang lain di dan di luar Afrika yang ingin mengatasi perlawanan dari masa lalu dan mengutamakan warganya,” kata Guterres, seperti dikutip dari AFP.

Pujian juga datang dari organisasi HAM independen, Amnesty International. Amnesty menilai Abiy merupakan sosok yang tepat hadiah bergengsi senilai 9 juta kronor Swedia atau sekitar Rp12,7 miliar itu. Namun organisasi yang berbasis di Amerikat Serikat menggarisbawahi bahwa penghargaan ini harus bisa memacu Abiy untuk meningkatkan reformasi di bidang HAM.

Lewat Sebuah pernyataan Amnesti Internasional menyatakan”Penghargaan ini mengakui kerja kritis yang telah dilakukan pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed untuk memulai reformasi hak asasi manusia di Ethiopia setelah puluhan tahun penindasan meluas.

“Sejak menjabat pada April 2018, dia telah mereformasi pasukan keamanan, mengganti badan amal dan hukum yang sangat mengekang, serta menyepakati perjanjian damai dengan negara tetangga Eritrea untuk mengakhiri 20 tahun konflik.”

Peran Abiy di kawasan, lanjut Amnesty, adalah membantu menengahi konflik antara pemimpin militer dan oposisi sipil di Sudah serta mengakhiri unjuk rasa yang berlangsung beberapa bulan.

Namun Amnesty menegaskan pekerjaan Abiy masih jauh dari selesai. Upaya lebih lanjut diperlukan untuk memperkuat penegakan HAM, merujuk pada konflik etnis di Ethiopia.