KBRI Pantau 2 Kawasan China Tempat Penyalur Pengantin Pesanan Asal RI

Foto The Conversation
Foto The Conversation

Beijing,Sayangi.com- Fungsi Protokoler dan Kekonsuleran KBRI Beijing Ichsan Firdaus menjelaskan KBRI di ibu kota China, Beijing, memantau dua provinsi yang menjadi tempat agen-agen penyalur pengantin pesanan asal Indonesia. Kedua provinsi tersebut adalah Henan dan Hebei.

“Di China itu ada yang kita catat, di Provinsi Henan dan Provinsi Hebei. Itu memang karena jumlah populasi memang banyak di sana (Henan dan Hebei). Jadi memang mereka mencari pengantin untuk menikah,” papar Ichsan

Ichsan mengakui dalam beberapa kasus pengantin pesanan sudah ada agen penyalur dari China yang sudah ditahan. Tapi dia mengingatkan memang butuh pendekatan terus menerus agar pihak berwenang di China mau memahami.

Setelah pendekatan terus menerus dengan pihak berwenang di Provinsi Hebei, sekarang kalau warga Indonesia ingin memperpanjang visa tinggal, disuruh ke KBRI Beijing. Atau kalau ada yang mau menikah baru, juga disuruh ke KBRI.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Duta Besar Indonesia untuk China Listyowati menjelaskan KBRI Beijing sudah mengambil langkah-langkah dengan mendekati pihak-pihak berwenang di China untuk membantu penyelesaian masalah warga negara Indonesia yang menjadi korban pengantin pesanan.

Tahun ini, kata Listyowati, terdapat 42 warga Indonesia yang menjadi korban pengantin pesanan. Namun tidak semua perempuan Indonesia itu berada di tempat penampungan, sebagian masih berada di kediaman suami mereka.
Menurut Listyowati, sekarang sudah tidak ada lagi korban pengantin pesanan yang tinggal di tempat penampungan.

Ia menambahkan Untuk mengatasi korban pengantin pesanan, pemerintah Indonesia pada berbagai level melakukan pendekatan dengan pemerintah China, termasuk Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Beragam pendekatan tersebut untuk menyamakan persepsi antara Indonesia dan China mengenai fenomena pengantin pesanan yang terindikasi perdagangan orang. Hingga akhirnya pihak China memahami apa yang menjadi kekhawatiran Indonesia dan masalah 42 perempuan Indonesia yang menjadi korban pengantin pesanan China sudah tertangani.

Meski begitu, dia memperingatkan persoalan pengantin pesanan ini belum rampung. Apalagi fenomena pengantin pesanan China terindikasi perdagangan orang sudah berkembang menjadi bisnis yang melibatkan aktor intelektual dan agen-agen penyalur/perekrut. Transaksi dinikmati para perekrut senilai Rp 300 juta-400 juta.

sumber: VOA news