Seminar Gerakan BEM Jakarta: Mahasiswa Jangan Terbiasa Berteriak di Ruang Gelap

Seminar Nasional yang diselenggarakan Gerakan BEM Jakarta bertajuk 'Pemuda dan Pembangunan Bangsa: Tantangan Sumber Daya dan Kepemimpinan Pemuda' di Gedung Joeang 45 Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Jakarta, Sayangi.com – Mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan bangsa hendaklah menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab serta tidak membiasakan diri berteriak di ruang gelap melalui akun anonim.

Demikian disampaikan Wakil Satgas Nusantara Polri, Brigjen Pol Fadil Imran, ketika menyampaikan Keynote Speech mewakili Kasatgas Nusantara Irjan Pol Gatot Eddy Pramono dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan Gerakan BEM Jakarta bertajuk ‘Pemuda dan Pembangunan Bangsa: Tantangan Sumber Daya dan Kepemimpinan Pemuda’ di Gedung Joeang 45 Jakarta, Selasa (15/10/2019).

“Yang perlu diperbaiki saat ini adalah netiket, yaitu etika dalam melakukan komunikasi di internet. Jadi di internet itu ada norma dan hukum. Jangan terbiasa berteriak di ruang gelap Medsos dengan akun palsu,” kata Fadil.

Pihaknya mengaku lebih respek dan menghormati mahasiswa yang berteriak di depan gedung DPR dengan melihat norma-norma dari pada anak muda yang terbiasa menghujat melalui akun anonim. Fadil kemudian menceritakan pengalamannya ketika menjadi Direktur Cyber Crime Polri. Menurut kajiannya, rata-rata orang yang berteriak dari ruang gelap ternyata mengalami keterbelakangan sosial dan psikologis.

“Jadi kalau ada yang berteriak di ruang gelap silakan periksa pribadi dan lingkungan sosialnya, jangan jangan ada gangguan jiwa atau tidak mendapatkan ruang sosial yang memadai sehingga mencoba mengaktualisasikan diri di dunia maya karena merasa tidak ada yang mengenali. Tapi itu salah, no place to hide,” kata Fadil.

Di hadapan ratusan mahasiswa yang hadir, Fadil menekankan pentingnya sikap kritis generasi muda terhadap arus keterbukaan informasi. Dikatakannya, mahasiswa tergolong Generasi Y yang memiliki ciri sangat personal, percaya diri, ekspresif, liberal, ceria, terbuka terhadap perubahan, dan memuja teknologi dan komunikasinya. Namun semua itu sangat rentan jika tidak dilandasi dengan wawasan kebangsaan.

“Persoalan yang harus dicermati terkait generasi muda yang hidup di era milenial ini adalah informasi yang terlalu terbuka tanpa didasari oleh pilar-pilar kebangsaan dan wawasan nusantara, itu sangat berbahaya. Tanpa mau belajar dan memahami norma-norma, orang gampang meneruskan informasi yang belum jelas kebenarannya dan ikut-ikutan menjadi bagian dari apa yang disebut firehouse of falsehood,” kata Fadil.

Fadil selanjutnya berpesan kepada mahasiswa agar mengembangkan diri dengan kompetensi yang kuat menuju Indonesia Emas 2045. Dijelaskan Fadil, Indonesia berpotensi menjadi negara maju karena memiliki modal yang kuat yaitu penduduk yang banyak, wilayah yang luas dan sumber daya alam yang berlimpah.

“Sadarilah bahwa anda berada dalam kontestasi regional dan kompetisi global. Marilah kita berkolaborasi sesama generasi muda, sesama elemen bangsa, demi kemajuan bangsa ini,” tegas Fadil.

Jaga Idealisme, Perkuat Kompetensi

Aktivis Demokrasi Maruarar Sirait yang turut menjadi narasumber pada seminar tersebut menekankan pentingnya mahasiswa menjaga idealisme dan memperkuat kompetensi dengan prinsip meritokrasi.

“Adik-adik mahasiswa harus menjadi pemimpin yang memiliki semangat meritokrasi, jangan feodal, jangan subjektif, jangan yang personal. Karena kalau itu dilakukan maka kesempatan aktivis akan menjadi sangat sulit,” kata Maruarar.
Menurut Maruarar, banyak aktivis pada akhirnya tidak bisa memperjuangkan sesuatu yang benar sebagai idealisme karena terjabak dengan prinsip melihat situasi, Jika ada arus kuat dan berpotensi menang dia ikut.

“Mahasiswa tidak boleh begitu, paramenter anda tidak boleh menang-kalah tapi harus berbasis moral yaitu baik-buruk,” kata Maruarar.

Sementara itu, Anggota DPR RI Ahmad Doli Kurnia mengapresiasi pelaksanaan seminar oleh Gerakan BEM Jakarta. Menurutnya, Mahasiswa disamping bisa menyampaikan aspirasinya secara demostratif juga bisa melakukan penyampaian gagasan yang dilandasi mutu akademik melalui pelaksanaan seminar tersebut.

Dalam pandangan Doli, problem kebangsaan yang dihadapi gerakan mahasiswa saat ini sangat kompleks.

“Sekarag ini era disrupsi (disruption era), dimana segala sesuatu serba mudah. Namun yang perlu dicermati pengaruhnya bagi generasi muda adalah era ini bisa mengganti hal yang sangat mendasar seperti kebudayaan dan ideologi. Yang dulunya kita mengenal ideologi Pancasila kini kita bisa mengenal ideologi yang sangat liberal,” kata Doli.

Menurut Doli, mahasiswa biasanya memiliki empat karakteristik yaitu: kritis (criticsm), tingkat keingintahuan tinggi (Curiosity), selalu berkelompok (Communalism), dan serba cepat (computing). Kempat hal tersebut memungkinkan mahasiswa untuk menerima dan mencari infomrasi dengan sangat cepat. Karena itu diperlukan tameng untuk memfilter setiap informasi yang masuk.

Dalam konteks tameng ini, Doli menjelaskan sebuah hasil penelitian terhadap orang sukses yang bisa dijadikan rujukan sebagai tameng diri. Dijelaskannya orang menjadi sukses yang paling utama disebabkan oleh empat hal yaitu: kejujuran, disiplin, punya skill, dan dukungan orang-orang terdekat.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan masa-masa studi di perguruan tinggi seproduktif mungkin. Dikatakannya, masa mahasiswa S1 adalah masa keemasan yang bisa dimanfaatkan untuk berinteraksi dengan begitu banyak dinamika kehidupan kampus.

“Masa mahasiswa S1 adalah kemewahan dimana kita bisa mengidentifikasi ingin menjadi apa di masa depan, apakah itu politisi, teknokrat, ataupun seniman. Berproseslah dari kampus untuk menjadi apapun sejak mahasiswa, karena tidak ada sesuatu yang instan,” kata Adi.

Menurut Adi, saat ini sangat disayangkan apabila ada mahasiswa tidak pintar karena semua saran untuk menjadi pintar sudah ada. Melalui smart phone mahasiswa bisa mengunduh buku-buku berkualitas.

“Yang repot adalah jika anda menjadi mahasiswa tetapi tidak punya merk. Baca buku tidak pernah, nulis apalagi, aktif di organisasi juga enggan,” katanya.

Adi juga mengkritisi aksi demonstrasi mahasiswa yang dinilainya musiman. Padahal semestinya mahasiswa selalu kritis jika ada kebijakan yang kurang populis.

“Demo itu jangan musiman, begitu ada isu revisi UU KPK lalu ramai turun jalan, tapi hal-hal populis lainnya tidak disikapi seperti kenaikan BBM, listrik, kebakaran hutan dan lain-lain. Ironisnya, di saat ada mahasiswa ditangkap, sebagian lainnya malah berebut ingin masuk TV, mestinya kan ada sikap solidaritas,” kata Adi.

Senada dengan Adi, Sekjen DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Riyan Hidayat mengimbau mahasiswa untuk tidak terjebak dengan isu musiman dan harus independen dalam menyuarakan tema besar gerakan mahasiswa.

Riyan mengatakan ada tiga karakteristik mahasiswa yang perlu dipahami.

“Yang paling bawah adalah mobilisasi, dia bergerak karena digerakkan tanpa adanya kesadaran. Kedua adalah Partisipasi, dia sadar digerakkan tapi dia mau ambil bagian untuk berpartisipasi. Sedangakan yang ketiga adalah mahasiswa inisiatif, dia kaya gagasan dan ide untuk bergerak dan mempengaruhi yang lain,”

Riyan selanjutnya menyarankan kepada para mahasiswa yang hadir jika ingin melakukan aksi gerakan mahasiswa sebaiknya dilakukan pengkajian mendalam dan mengidentifikasi hal detail dari setiap masalah.

“Yang terjadi sekarang kan beda, kalau ramai di media lalu ikut aksi. Disuruh aksi soal ‘hoaks’ ikut semua, soal KPK ikut semua. Tidak ada alternatif yang dimunculkan secara independen,” kata Riyan.

Sementara itu, Ahli ekonomi Arif Budimanta menyoroti pentingnya peran pemuda dalam perjalanan pembangunan bangsa. Bahkan gerakan perubahan dari masa ke masa selalau didorong oleh generasi muda sehingga lahirlah kemerdekaan Indonesia.

“Artinya, kita bertahan sebagai bangsa sebagai negara karena kita percaya dengan konsensus yang dibuat oleh pemuda-pemuda Indonesia saat itu berupa Pancasila, NKRI, UUD 45, dan Bhinneka Tunggal IKa. Begitulah pentingnya peran pemuda dalam perjalanan bangsa ini,” kata Arif.

Arif menekankan bahwa kepemimpinan Indonesia pada 25 tahun ke depan berada di tangan generasi muda saat ini.

“Yang menjadi pertanyaan, apakakah 25 tahun yang akan datang saudara-saudara masih memiliki keyakinan yang sama dengan pemuda zaman kemerdekaan?,” tanya Arif kepada mahasiswa yang langsung dijawab serentak: “Masiiih”.