Gedung Konvensi Selandia Baru Sudah 2 Hari Dilalap Jago Merah

Gedung The New Zealand Internasional Convention Center di Auckland Selandia Baru terbakar. Foto AP
Gedung The New Zealand Internasional Convention Center di Auckland Selandia Baru terbakar. Foto AP

Auckland,Sayangi.com- Kebakaran telah melanda sebuah proyek gedung di wilayah perkantoran Auckland, Selandia Baru, sejak Selasa (23/10) kemarin belum berhasil dipadamkan. Kejadian itu membuat arus lalu lintas di pusat kota terpaksa dialihkan untuk memberi ruang bagi pemadam kebakaran mencegah kobaran api tidak merembet.

Seperti dilansir Associated Press, Rabu (23/10), lokasi yang terbakar itu adalah proyek gedung pertemuan The New Zealand International Convention Centre. Gedung itu ditargetkan menjadi lokasi untuk menggelar forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada 2021 mendatang.Bangunan itu diproyeksikan mampu menampung 3000 orang, dan menyediakan 300 kamar hotel.

Proyek itu dikerjakan oleh pengembang SkyCity Entertainment Group. Perdana Menteri Jacinda Ardern menyatakan sudah menyiapkan rencana cadangan jika pembangunan gedung itu tidak selesai tepat waktu akibat kebakaran. Kita berada dalam kondisi lebih baik saat ini,” kata Ardern.

Menurut penjelasan aparat, api merembet dengan cepat dari bagian atap. Sejumlah bahan-bahan bangunan mudah terbakar seperti aspal pelapis (bitumen), jerami dan triplek membuat si jago merah semakin besar.

Alhasil pemadam kesulitan mencapai lokasi kebakaran yang berada di lantai tujuh. Saat ini petugas pemedam kebakaran memutuskan membiarkan api terbakar hingga padam dengan sendirinya, sembari menyemprotkan air dan berjaga supaya tidak merembet.

Rencana kami adalah mengorbankan atap, dan membiarkan puing-puing jatuh dengan sendirinya,” kata komandan pemadam kebakaran Selandia Baru, Ron Devlin.

Devlin menyatakan mengerahkan sekitar 100 pemadam. Aparat juga menutup sejumlah jalan dan kawasan di sekitar lokasi kebakaran.Direktur Eksekutif Fletcher Building, Ross Taylor, menyatakan kebakaran diduga terjadi ketika pekerja menggunakan alat las untuk menutup sambungan atap dengan bitumen.

Proyek itu dimulai sejak 2015 dan jadwal penyelesaiannya sudah molor. Anggaran proyek itu juga disebut sudah terlampau besar, yakni menyedot dana sekitar US$450 juta (sekitar Rp6,3 triliun).