Hindari Kritik Politisi Jerman Memilih Produksi Beritanya Sendiri

Foto Kanselir Jerman Angela Merkel dan Ketua Umum Partai Demokrat Sosial (SPD)Martin Schulz. Foto Daily Expres
Foto Kanselir Jerman Angela Merkel dan Ketua Umum Partai Demokrat Sosial (SPD)Martin Schulz. Foto Daily Expres

Berlin,Sayangi.com- Perkembangan teknologi komunikasi dan munculnya media sosial mengubah bentuk komunikasi dan wajah media. Pemisahan antara iklan atau kampanye promosi dengan berita sering tidak jelas lagi. Kecenderungan itu juga turut mengubah bentuk-bentuk komunikasi politik.

Makin banyak politisi dan kubu politik yang sekarang memproduksi kontennya sendiri, yang ditampilkan seperti berita.Perkembangan ini juga belakangan terlihat di Jerman. Belum lama ini Ketua Fraksi CDU Ralf Brinkhaus tampil di sebuah video dalam wawancara dengan Kanselir Angela Merkel, yang adalah Ketua Umum CDU. Dalam video itu, Ralf Brinkhaus tampak mewawancarai Merkel layaknya seorang jurnalis.

Sangat menyenangkan kita bisa melakukan wawancara ini,” kata Brinkhaus lalu kemudian bertanya kepada Kanselir Angela Merkel tentang ingatannya pada musim gugur 1989, ketika perbatasan antara Berlin Timur dan Berlin Barat dibuka, peristiwa yang dikenang sebagai “Keruntuhan Tembok Berlin”.

Mereka yang tidak tahu siapa Ralf Brinkhaus, cenderung akan mengira bahwa dia adalah seorang jurnalis yang sedang mewancarai pemimpin Jerman. Dan kesan seperti itu memang dikehendaki. Karena selama perbincangan santai itu, tidak ada informasi mengenai pria yang mengajukan pertanyaan. Apalagi keterangan bahwa dia adalah seroang pejabat tinggi partai. Informasi itu baru disampaikan dalam brosur-brosur CDU yang dicetak.

Semua itu memang disengaja, kata Frank Überall, Ketua Serikat Jurnalis Jerman, DJV. Menurut Frans hal ini Tujuannya agar bisa tampil otentik, dan ini menjadi tren baru di Jerman dan banyak negara lain.

Para ahli menyebut metode ini sebagai “kontrol pesan” yang dibentuk dengan “ruang redaksi terkendali”. Partai ultra kanan Jerman AfD yang pertama kali menggunakan metode ini secara masif, dengan alasan bahwa mereka tidak percaya lagi media arus utama, yang sering “hanya mendiskreditkan” mereka.

“Kami membuat media alternatif kami sendiri,” kata Mario Hau, kepala tim media sosial AfD dalam wawancara dengan DW.

Pakar politik dan digital Martin Fuchs mengatakan, AfD memang memanfaatkan media sosial sebaik mungkin. Sasarannya agar posting-posting anggota partai terlihat oleh publik dan dibagikan kepada banyak orang lain, lalu disebarkan lebih lanjut oleh pengikut. Dengan cara itu, AfD memang berhasil “memviralkan” beberapa isu.

Keberhasilan AfD tampaknya sekarang ingin dicontoh oleh Partai Sosial Demokrat SPD dan Partai Uni Kristen CD. diberitakan akan mengerahkan belasan orang yang nantinya khusus bertugas membangun jaringan-jaringan media sosial mereka menjadi semacam “newsroom”.

Tujuannya adalah untuk menyebarkan berita-berita yang diproduksi sendiri dan menjangkau pemilih potensial yang tidak membaca koran atau menonton berita. Jalur media sosial memang dipandang sebagai kanal penting untuk menyalurkan pesan-pesan politik langsung kepada pengguna.

sumber: Deutch Welle