Penyekapan Direktur Hotel di Taman Sari, Begini Kronologinya

Polisi memperlihatkan para tersangka pelaku penyekapan terhadap Direktur PT Maxima Interindah Hotel, Engkos Kosasih. (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Jakarta, Sayangi.com – Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat mengungkap kasus penyekapan Direktur PT Maxima Interindah Hotel, Engkos Kosasih. Kasus tersebut terjadi saat PT. Maxima melakukan kontrak dengan pihak kontraktor Ucu Suryana, senilai Rp 31 miliar.

Setelah melakukan kontrak, Ucu memberikan dana awalan senilai Rp 100 juta kepada pelapor untuk mengurus surat. Namun proyek tersebut tidak berjalan dan Ucu minta uang kembali.

Kasatreskrim Polres Jakarta Barat akbp Edy Suranta Sitepu menjelaskan, awalnya Ucu berniat menagih uang ke Engkos. Ia kemudian bekerjasama dengan pihak penyedia jasa PT. Hai Sua Jaya Sentosa untuk menagih uang ke Engkos.

“Tersangka AB selaku direktur penyedia jasa diberi kuasa untuk menagih hutang ke Engkos Kosasih sebesar 100 juta,” ujar Edy di Mapolres Jakarta Barat, Senin (28/10).

Kemudian, lanjut Edy, AB mendatangi mendatangi Engkos di Hotel Grand Akoya Taman Sari, Jakarta Barat guna menagih uang Rp 100 juta. Dalam menjalankan aksinya AB tidak sendiri dirinya ditemani oleh tujuh orang anak buahnya, yang sesama debt collector.

Di dalam hotel, Engkos sepakat untuk mengembalikan uang senilai Rp 100 juta dalam kurun lima hari. Namun karena khawatir melarikan diri, AB bersama anak buahnya sepakat untuk menyekap Engkos.

“Tujuh orang disuruh tunggu memantau kegiatan Engkos agar tidak bisa kabur kemana-mana. Tiga orang berada di kamar, sementara empat orang di bawah,” kata Edy.

Karena merasa berkuasa, sambung Edy, AB bersama rekannya memaksa Engkos untuk menandatangani surat kenaikan hutang. Sehingga korban harus membayar Rp 250 juta, atau lebih banyak Rp 150 juta dari total jumlah hutangnya.

“AB juga memaksa korban menandatangani perjanjian kenaikan pembayaran utang karena adanya keterlambatan pembayaran dari 100 juta ke 250 juta dan korban menandatangani karena merasa terancam,” jelasnya.

Lebih jauh Edy menjelaskan, pihaknya mendapat informasi penyekapan dari laporan karyawan korban. Lalu polisi berhasil melakukan penangkapan kepada tujuh debt collector, mereka adalah A, J, M, H, F, F dan F, namun AB berhasil melarikan diri.

“Salah satu karyawan berhasil melarikan diri dan melapor ke polisi. Polisi langsung lakukan penindakan ke TKP,” katanya.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 333 KUHP karena Merampas Kemerdekaan Terhadap Orang Lain dengan ancaman hukuman 8 tahun penjara.