Golkar: Dukungan Bamsoet dari DPD II Cukup Kuat

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (kanan) berjabat tangan dengan Ketua MPR Bambang Soesatyo (kedua kanan) yang disaksikan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie (ketiga kanan) dan Tokoh Senior Partai Golkar Akbar Tanjung, pada pembukaan Rapimnas Partai Golkar di Jakarta, Kamis (14/11/2019).

Jakarta, Sayangi.com – Ketua Bidang Kebudayaan Daerah DPP Partai Golkar, Ulla Nurahmawaty menyebutkan, dukungan DPD II kepada Bambang Soesatyo (Bamsoet) sebagai caketum Golkar cukup kuat di Musyawarah Nasional (Munas) Golkar pada awal Desember 2019.

“Kami optimis karena jumlah yang mendukung Pak Bambang sudah 50 persen plus satu, itu berarti cukup kuat,” ujar Ulla, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Rabu.

Meski demikian, konsolidasi tetap dilakukan agar peta suara tidak berubah hingga pemilihan ketua umum saat Munas pada Desember nanti.

Menurut dia, dukungan dari 367 DPD tingkat II kepada Bamsoet untuk menjadi ketua umum Partai Golkar merupakan pilihan objektif kader setelah melihat kondisi Golkar saat ini.

“Partai ini milik kader, mereka adanya di DPD I dan DPD II. Mereka objektif melihat partai, apa yang mereka rasakan selama ini, nyaman atau tidak. Kalau tidak nyaman, mereka berhak mengatur rumahnya sendiri,” kata Ulla.

Terkait dukungan DPD I kepada Airlangga Hartarto yang disampaikan saat Rapimnas lalu, menurut Ulla, sah-sah saja. Tapi, dia berharap DPD I juga objektif melihat Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga.

“Kader tidak merasakan perkembangan positif Golkar. Jumlah suara turun. Apa yang bisa dikatakan berhasil? Kalau dalam politik kan ukuran sukses itu suara. Kalau Pak Airlangga sukses di kementerian, itu berbeda,” kata Ulla.

Pada Pileg 2019, suara Partai Golkar berada diperingkat tiga dengan perolehan 17.229.789 suara atau 12,31 persen. Di atasnya ada Partai Gerindra dan PDIP. Padahal saat Pileg 2014, Golkar berhasil meraih 18.432.312 suara atau 14,75 persen.

Turunnya suara Golkar saat Pileg 2019 karena banyak faktor, salah satunya internal partai berlambang Pohon Beringin itu tidak kondusif. Airlangga tidak mampu merangkul kader Golkar hingga ke tingkat akar rumput.

“Bisa dilihat bahwa Pak Airlangga itu pergaulannya terbatas, hanya di tingkat elite saja, tidak mengakar. Bamsoet sangat dinamis, lebih adaftif dan mengakar,” kata pengamat politik Ujang Komarudin.