KTT ROK-ASEAN, Jokowi: Tiga Hal Perlu Dilakukan Hadapi Resesi

Busan-Korea, Sayangi.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut ada tiga (3) hal yang harus dilakukan negara-negara ASEAN dan Korea dalam menghadapi resesi ekonomi dan tantangan global ke depan.

“Terjadinya resesi ekonomi dunia akan menjadi ‘destruction’ (penghacuran) sistem ekonomi dan keuangan global serta ketidakpercayaan terhadap institusi ekonomi dunia,” kata Jokowi saat berbicara dalam KTT Repulik of Korea (ROK)-ASEAN CEO Summit di Busan Korea Selatan, Senin.

Presiden berharap negara-negara ASEAN dan Korea bisa menghadapi bersama berbagai tantangan dan harus membuat terobosan agar ekonomi di kawasan tidak tergerus semakin dalam.

Presiden menyebut tiga hal pertama yang harus dilakukan adalah membangun infrastruktur yang berkualitas.

Jokowi mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia gencar melakukan pembangunan infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, melalui terciptanya pusat-pusat ekonomi baru termasuk di daerah-daerah terpencil.

“Indonesia akan menggelar forum infrastruktur dan konektivitas di kawasan Indo Pasifik. Saya undang semua pelaku usaha untuk merebut infrastruktur dan konektivitas di Indonesia dan juga di kawasan Indo Pasifik,” kata Jokowi.

Kepala Negara juga akan melakukan penyederhanaan aturan untuk menarik investor ke Indonesia, yakni dengan merevisi 74 Undang-undang yang menghambat investasi.

“Kami akan segera merevisi 74 Undang-undang yang menghambat investasi. Sudah saya minta untuk diselesaikan dalam waktu dekat ini,” katanya.

Hal yang kedua, kata Jokowi, adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah kunci lompatan ekonomi bagi sebuah negara.

“Untuk itu revitalisasi pendidikan guna menciptakan ‘link and match’ antara pendidikan dan dunia kerja menjadi sebuah keniscayaan,” katanya.

Sementara hal ketiga adalah pengembangan energi terbarukan harus dikembangkan, kata Jokowi.

“ASEAN dan Korea harus menjadikan ‘champion’ pengembangan energi terbarukan di kawasan,” katanya.

Jokowi mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini sudah mencanangkan kewajiban biodisel B20, yaitu mencapur minyak sawit dengan solar sebesar 20 persen atau B20.

“Tahun depan kami akan mewajibkan peningkatan biodisel tersebut naik menjadi 30 persen atau B30,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, Indonesia akan memanfaatkan sumber daya air untuk pembangkit listrik dengan jumlah signifikan. Setidaknya ada dua lokasi di Kalimantan Utara dan Papua.

“Pengembangan energi terbarukan ini akan memiliki emisi yang rendah. Ini sudah menjadi komitmen kami terhadap Perjanjian Paris,” kata Jokowi.

Jokowi kembali menegaskan bahwa tantangan ke depan semakin tidak ringan sehingga perlu mengambil terobosan besar untuk menghindari penghacuran perekonomian dunia,

Jokowi mengajak para pengusaha Korea dan ASEAN untuk mengambil pilihan ini agar bisa menjadi pemenang.