Lewat UIII, Indonesia Harus Jadi Pusat Peradaban Islam Dunia

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Prof Arskal Salim

Jakarta, Sayangi.com – Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Pendidikan Tinggi Islam (DIKTIS) Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar pertemuan para ahli (Expert Meeting) dari berbagai belahan dunia. Expert meeting ini digelar di Hotel Pullman, Jakarta, selama dua hari, yakni 25-26 November 2019.

Expert Meeting ini bertajuk “Seizing the Moment for Reinventing Muslim Civilization” yakni Merebut Momentum untuk Menemukan Kembali Peradaban Islam”. Program ini dihadiri oleh para rektor dan akademisi terkemuka dari manca negara: Mesir, Maroko, Kanada, Inggris, Australia, Tunisia, dan dari dalam negeri.

Expert Meeting bertujuan untuk menjadi sarana memperkenalkan kehadiran UIII kepada dunia internasional. Selain itu kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mengupdate berbagai praktik dan pengalaman terbaik universitas-universitas terkemuka di dunia dalam mengembangkan kapasitas kelembagaan dan akademiknya di era milinial ini.

Sejumlah rektor dan mantan rektor dari berbagai negara mengikuti Expert Meeting yang digelar UIII dan Kementerian Agama RI

Dalam acara ini, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Prof Arskal Salim dalam sambutannya mengaskan bahwa kelahiran UIII merupakan tuntutan sejarah yang tidak bisa ditawar lagi. Indonesia harus punya universitas kelas dunia yang memerankan misi diplomatik.

“Maka UIII dapat mempromosikan pesan-pesan Islam yang damai dan toleran, pesan Islam dan berkeadaban dan berkemajuan ke dunia internasional. Indonesia bertekad untuk mengembangkan Islam moderat sejalan dengan munculnya berbagai konflik dan kekerasan yang bersumber pada pemahaman agama,” kata Arskal.

“Lewat UIII juga kita bertekad untuk menarik minat para pelajar dan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia untuk datang ke Indonesia. Indonesia menjadi pusat peradaban Islam, tidak lagi menjadi periphery (pinggiran) seperti anggapan selama ini. Dan untuk urusan tersebut Indonesia mampu, kita yakin bahwa kita mampu mengemban tugas dan amanat tersebut,” tegasnya.

Dalam sejarah kata dia, Islam di Indonesia dikenal sebagai Islam pinggiran. Islam Indonesia dianggap tidak sepenuhnya Islam, tapi agama yang bercampur baur dengan tradisi lokal, yaitu Sinkretisme.

“Dengan adanya UIII ini, diharapkan citra Indonesia di dunia internasional tidak lagi dipandang sebelah mata. Dalam diskursus keilmuwan hingga saat ini Indonesia pun masih dipandang sebelah mata. Kajian tentang Islam berpusat pada Timur Tengah, lalu bergesar ke Timur sampai Indo-Pakistan. Indonesia dilewati begitu saja,” jelas dia.

“Pandangan keliru ini tentu harus diubah. Saat ini Indonesia memiliki kesempatan untuk memperkenalka khazanah dan tradisi Islam Indonesia secara lebih baik ke dunia internasional. UIII berkewajiban memperkenalkan hal tersebut. Besar, bahkan terlalu besar, harapan masyarakat Indoesia terhadap UIII ini. Semoga kita dan semua orang yang terlibat dalam pengurusan UIII diberi kekuatan oleh Allah Swt.”

Tampaknya kata dia, kehadiran universitas Islam internasional di Indonesia sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Ia membandingkan dengan Malaysia, yang menurutnya sudah jauh lebih maju. Sebab, sejak tahun 1980-an di negeri jiran tersebut sudah berdiri kampus-kampus internasional. Sehingga mahasiswa dari berbagai penjuru dunia datang ke Malaysia.

“Ketertinggalan ini tentu tidak bisa dibiarkan terus. Kita harus mengejarnya agar sejajar dengan negara-negara lainnya. Sejalan dengan semangat untuk berjejaring dan berkoloborasi dengan lembaga-lembaga internasional, kehadiran UIII dirasakan tepat dan sesuai dengan kebutuhan yang ada,” ujarnya.

Diketahui, UIII adalah perguruan tinggi Islam pertama dengan skala internasional yang didirikan di Indonesia. Diharapkan UIII dapat menjadi jendela Indonesia untuk memperkenalkan kepada dunia tentang kekhasan Islam dan kehidupan masyarakat Muslim di Indonesia. Kalau Mesir terkenal dengan Universitas Al-Azhar Kairo, Makkah dengan Ummmul Qura, maka Indonesia hadir dengan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Sebagai universitas program pascasarjana (S2 dan S3) UIII akan mengundang mahasiswa berbakat dari berbagai negara untuk melakukan studi mendalam (empirik-komparatif) tentang perkembangan kehidupan Muslim dari berbagai aspeknya: sosial- keagamaan, politik, pendidikan, ekonomi-keuangan, seni dan arsitektur, serta hukum & ketatanegaraan.

“Dengan posisinya sebagai negara Muslim terbesar di dunia, sudah saatnya, Indonesia menjadi salah satu kiblat dunia untuk mendalami Islam dan kehidupan masyarakat Muslim, khususnya di tengah pergulatannya dengan modernitas. Keberhasilan Indonesia memelihara kehidupan umat beragama yang harmonis dalam tatanan yang demokratis menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia akademik dunia untuk labaratorium pengembangan keilmuan di bidang-bidang sosial-keagamaan. UIII akan memulai kegiatan akademik September 2020 dengan 4 program: Kajian Keislaman (Islamic Studies), Pendidikan (Education), Ilmu Politik (Political Science), Ekonomi & Keuangan Islam (Islamic Econimic and Finance).”