Bedah Buku Wallace: Charles Darwin Panik Saat Baca Teori Evolusi dari Nusantara

Prof Sangkot Marzuki,Phd (pegang mic) saat menjadi narasumber dalam Diskusi Buku "Kepulauan Nusantara" (The Malay Archipelago) karya Alfred Russel Wallace yang diselenggarakan oleh DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan di Hotel Grend Alia, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (3/12/2019).

Jakarta, Sayangi.com – Pakar Biologi Molekuler Profesor Sangkot Marzuki mengungkapkan pencetus utama teori evolusi mestinya tidak hanya disematkan kepada Charles Darwin. Ada nama Alfred Russel Wallace yang lebih tepat disebut penemu teori evolusi setelah diilhami oleh keanekaragaman hayati kepulauan nusantara Indonesia.

Hal itu disampaikan Sangkot Marzuki saat menjadi narasumber dalam Diskusi Buku “Kepulauan Nusantara” (The Malay Archipelago) yang diselenggarakan oleh DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan di Hotel Grend Alia, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (3/12/2019).

Buku The Malay Archipelago adalah sebuah buku yang ditulis oleh seorang naturalis berkebangsaan Inggris, Alfred Russel Wallace yang berisikan petualangan keilmuannya, selama hampir 9 tahun penjelajahannya di bumi Nusantara (1854 hingga 1862).

Dalam diskusi yang dimoderatori Bursah Zarnubi ini, turut hadir sebagai narasumber adalah Cendekiawan Yudi Latif, Kepala Pusat Penelitian Perubahan Iklim Prof Jatna Supriatna, dan Sejarawan JJ Rizal.

Menurut Sangkot, teori evolusi bukan lahir dari buku The Origin of Species karya Darwin, asal usulnya juga bukan dari hasil pelayaran Darwin ke Galapagos, tapi berasal dari penemuan Wallace setelah melakukan serangkaian penelitian di nusantara.

“Satu tahun sebelum buku The Origin of Species dipublikasikan, Wallece mengirimkan makalahnya ke Darwin, dan Darwin sempat panik karena menurut cerita dari Darwin dan kawan-kawannya, Darwin sudah 20 tahun memikirkan teori evolusi itu tapi tidak pernah menulis apa-apa, tahu tahu ada makalah lengkap dan catatan yang dikirim oleh Wallace yang terilhami oleh keanekaragaman hayati kepulauan nusantara kita,” kata Sangkot.

Dalam makalahnya, Wallace sampai kepada kesimpulan bahwa munculnya spasies itu adalah karena natural selection (seleksi alam) berdasarkan survival of the fittest, siapa yang lebih kuat dia hidup.

“Itu persis teorinya Darwin,” kata Sangkot.

Sangkot menceritakan asal mula penemuan besar itu, ketika Wallace sedang berada di Ternate 1858 ia mengidap malaria dan hanya bisa berbaring dan berfikir. Saat itulah wallace menyadari bahwa dalam dunia hewan individu yang sehat umumnya akan terhindar dari penyakit, yang terkuat, tercepat dan tercerdik terhindari dari musuh.

“Disitulah dia melihat ada spasies dalam serangan malaria ada yang muncul, mati, muncul lagi yang lain dan keluarlah di situ ide natural selection dan survival at the fittest yang kemudian dikirim ke Darwin,” kata Sangkot,  yang juga tercatat sebagai  Presiden Akademi Imu Pengetahuan Indonesia (AIPI).

Profesor Sangkot dalam tulisannya terdahulu pernah menjelaskan bahwa, pada 1 Juli 1858 perkumpulan ilmuwan Inggris, Linnean Society, menggelar presentasi ilmiah untuk mengupas temuan terkait teori evolusi. Surat dari Ternate (Letter from Ternate) karya Wallace bersama beberapa cuplikan buram makalah karya Darwin dibacakan di hadapan Linnean Society tanpa dihadiri Darwin dan Wallace. Dalam pengantar presentasi yang disiapkan Charles Lyell dan Joseph Hooker -keduanya kawan dan mentor Darwin- dideklarasikan bahwa Darwin dan Wallace secara terpisah telah melahirkan teori yang menjelaskan kemunculan beragam bentuk makhluk hidup.

Dalam presentasi di depan Linnean Society kala itu, hanya fragmen tulisan Darwin yang dibacakan, padahal presentasi Wallace merupakan konsep pemikiran langkap yang tertulis layaknya makalah ilmiah. Menurut Kaidah pengetahuan modern, Wallace jelas memiliki prioritas (paten) dibanding Darwin dalam kepemilikan intelektual teori evolusi atau teori seleksi alam. Beberapa ahli sejarah bahkan curiga Darwin mengambil ide Wallace secara tak patut. Kata-kata kunci teori evolusi yang dipakai Darwin di kemudian hari, seperti natural selection dan survival of the fittest, adalah ekspresi Wallace dalam Surat dari Ternate.

Charles Darwin sendiri mengaku iri atas ketekunan Wallace. Hal itu dituliskannya dalam testimoni buku The Malay Archipelago karya Alfred Russel Wallace.

“Dari semua kesan yang saya dapat dari buku Anda, yang begitu kuat membekas bagi saya adalah ketekunan Anda dalam ilmu pengetahuan. Sungguh heroik. Dan saya begitu iri pada Anda” -Charles Darwin, Penulis The Origin of Species.”

Kecerdasan Melayu vs Papua

Cendekiawan Yudi Latif mengkritik temuan Wallace dalam buku Kepulauan Nusantara yang dinilainya mengandung subjektivitas dari pola pikir Barat. Dalam penulisan bukunya, Wallace dianggap mengedepankan superioritas kulit putih. Yudi mencontohkan ketika Wallace membandingkan kadar kecerdasan orang melayu dan Papua.

“Ini menarik, Wallace bilang the intellect of Malay race seems rather deficient. Kapasitas intelektual orang Melayu dia bilang agak jongkok, bahkan kapasitas intelektual Ras Papua Melanesoid secara capacity lebih kuat ketimbang orang Melayu,” kata Yudi.

Kenapa peradaban lahir di kaum Melayu dan tidak di Papua, itu karena ras Melayu banyak kesusupan peradaban dari India, Cina, Arab, dan Persia. Sementara Papua cuma terkena pengaruh dari Melayu.

Pandangan ini menurut Yudi bias orientalisme dan bias etnocentrisme dan justru bertentangan dengan hukum evolusi itu sendiri. Karena otak manusia lama kelamaan lebih membesar sesuai hukum fisika.

“Jadi, sebenarnya saya ingin men-challange dia dari sisi biologi dengan teori evolusi itu sendiri,” katanya.

Yudi tidak percaya pada temuan Wallace bahwa otak orang Melayu jongkok, apalagi faktanya di kemudian hari banyak orang Melayu yang justru jenius.

Meski demikian Yudi mengaku setuju dengan pandangan Wallace lainnya yang menyebut rasa ingin tahu (curiosity) orang Melayu terhadap ilmu pengetahuan (science) rendah.

Menanggapi Yudi, Profesor Sangkot tidak setuju jika Wallace dianggap subjektif terkait perbandingan kecerdasan Melayu-Papua. Buktinya, pada bagian lain buku tersebut justru dinyatakan bahwa orang Papua dalam beberapa hal lebih superior dari kulit putih.

“Jadi dalam hal ini dia (Wallace) netral,” tegas Sangkot.