Anhar Gonggong Dorong Pemahaman Pancasila Diubah dari Mitos ke Realitas Sejarah

Sejarawan Anhar Gonggong ketika menjadi narasumber dalam Latihan Kepemimpinan Bangsa angkatan ke-7 yang diselenggarakan DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) di Wisma DPR RI Puncak Bogor, Sabtu (14/12/2019).

Bogor, Sayangi.com – Sejarawan Anhar Gonggong mengatakan, dalam sejarah bangsa Indonesia, posisi dan makna Pancasila telah berhasil melewati gelombang besar sejalan perjalanan bangsa-negara Indonesia di dalam mempertahankan eksistensinya.

“NKRI dengan Pancasilanya, sampai saat ini tetap bertegak dengan kuatnya. Tidak jarang Pancasila menghadapi gelombang penolakan, bahkan sampai sekarang pun masih ada yang berusaha untuk menggantikannya” kata Anhar Gonggong ketika menjadi narasumber dalam Latihan Kepemimpinan Bangsa angkatan ke-7 yang diselenggarakan DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) di Wisma DPR RI Puncak Bogor, Sabtu (14/12/2019).

Meski demikian, dalam perjalanannya posisi Pancasila hanya efektif sebagai ideologi yang mempersatukan Indonesia secara politis, tetapi belum efektif sebagai ideologi ekonomi, sosial dan budaya.

“Saya setuju dengan Kuntowijoyo, bahwa Pancasila belum efektif sebagai ideologi ekonomi, sosial dan budaya karena kita masih memahami Pancasila sebagai sebuah mitos,” kata Anhar.

Anhar menjelaskan, sejak kelahiran Pancasila tahun 1945, Pancasila kemudian jadi kesadaran sosial, dan bangsa Indonesia cenderung mengeramatkannya sekaligus menjatuhkannya. Ada istilah ‘Pancasila Sakti”, karena itu akhirnya lebih dipandang sebagai mitos daripada sebagai sejarah.

“Pancasila dikramatkan seakan-akan punya kesaktian. Ada juga berkembang sekarang istilah “Pancasila Harga Mati”. Mana ada itu harga mati, mati itu hak tuhan. Selama manusia yang menjalankan itu masih bisa berubah-ubah,” tegas Anhar.

“Saat ini yang lebih penting justru Pancasila itu harus dianggap sebagai produk sejarah dan didekati secara ilmu,” lanjutnya.

Anhar menekankan, suatu bangsa tidak akan pernah maju dengan mengembangkan mitos, kemajuan bisa dicapai dengan belajar menggunakan metode ilmu pengetahuan.

“Keberhasilan revolusi industri itu juga bukan dengan mitos. Kenapa Inggris jadi pencipta industri pertama? karena sejak abad ke-13 bangsa Inggris sudah mempunyai lembaga penelitian,” demikian Anhar Gonggong.

Latihan Kepemimpinan Bangsa yang dilaksanakan DPP PGK kali ini mengambil tema “Mempersiapkan Pemimpin Muda Yang Tangguh dan Berkarakter Pancasila” dan diikuti sekitar 100 mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi. Sejumlah tokoh nasional turut menjadi narasumber antara lain Wakasatgas Nusantara Polri Irjen Pol Fadil Imran, Budayawan Radar Panca Dahana, Cendekiawan Yudi Latif, Pengamat Politik Adi Prayitno, dan Para Pemimpin Pemuda dari Kelompok Cipayung Plus.