Begini Cara Budawayan Radhar Panca Luruskan Pikiran Keliru Soal Radikalisme

Radhar Panca Dahana saat menjadi narasumber dalam Latihan Kepemimpinan Bangsa angkatan ke-7 yang diselenggarakan DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) di Wisma DPR RI Puncak Bogor, Sabtu (14/12/2019).

Bogor, Sayangi.com – Budayawan Radhar Panca Dahana menilai akhir-akhir ini wacana publik di tanah air banyak diwarnai dengan pandangan yang keliru soal radikalisme. Dia khawatir jika pikiran keliru itu dibiarkan akan berkembang ke arah pemberangusan pikiran.

“Kerap terjadi pikiran yang keliru soal radikalisme. Saya tegaskan, radikalisme itu bukan hanya wajar, tapi wajib dalam kebudayaan,” tegas Radhar saat menjadi narasumber dalam Latihan Kepemimpinan Bangsa angkatan ke-7 yang diselenggarakan DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) di Wisma DPR RI Puncak Bogor, Sabtu (14/12/2019).

Radhar menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan radikal pasti terkait dengan sesuatu yang ekstrem. Karena itu stigma negatif terhadap kata ‘radikalisme’ itu dinilainya kurang tepat.

“Kebudayaan bergerak, berkembang, tumbuh menjadi sesuatu yang luar biasa karena ada radikalisme dari aktor-aktornya, dimulai dari radikalisme pikiran. Orang seperti Soekarno, Iskandar Agung, Napoleon, Hitler, dan Albert Enstein, semua itu radikal,” katanya.

Ketika pikiran orang-orang hebat itu menembus batasan yang melampaui pikiran orang lain maka sebenarnya orang tersebut termasuk radikal. Oleh karena itu, Radhar berpandangan bahwa berfikir radikal itu justru harus dianjurkan dan bukannya malah dibatasi apalagi diberangus.

“Pikiran orang itu tidak bisa dikendalikan dan tidak bisa disetir. Jadi biarkan orang-orang itu bebas memainkan imajinasi, pikiran, khayalan, bahkan fiksi,” katanya.

Radhar mengingatkan, kesalaham Soeharto paling besar adalah memasung imajinasi. Maka jangan mengulang kesalahan dengan memberangus pikiran-pikiran radikal hanya karena khawatir itu menjadi gerakan yang ekstrem. Saat imajinasi dipasung pada saat itu juga kebudayaan berhenti.

“Produk kebudayaan kita saat ini mengalami situasi kemerosotan sampai titik nadir, produk kultural mencapai kualitas terburuk sepanjang sejarah peradaban bangsa ini. Saya bisa pertanggungjawabkan pernyataan ini,” kata Radhar.

“Tunjukkan pada saya di mana prestasi kita dalam produk kebudayaan di tingkat dunia? tidak ada. Literasi kita rendah, profesor dan doktor sih banyak. Tapi kontribusi keilmuan akademis kita pada dunia mana?,” ujar Radhar mempertanyakan.

Radhar selanjutnya menantang para intelektual di negeri ini agar menghasilkan produk intelektual tentang bangsa Indonesia yang menyerupai pikiran Soekarno, Soepomo, Sjahrir, Hatta dan para founding fathers lainnya.

“Sampai detik ini kalian para intelektual masih saja mengutip pandangan para tokoh bangsa 70-100 tahun lalu yang saat ini sudah di kuburan. Kemana gagasan kalian kok ngutip orang lain terus,” tegas Radhar.

Latihan Kepemimpinan Bangsa yang dilaksanakan DPP PGK kali ini mengambil tema “Mempersiapkan Pemimpin Muda Yang Tangguh dan Berkarakter Pancasila” dan diikuti sekitar 100 mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi. Sejumlah tokoh nasional turut menjadi narasumber antara lain Wakasatgas Nusantara Polri Irjen Pol Fadil Imran, Sejarawan Anhar Gonggong, Cendekiawan Yudi Latif, Pengamat Politik Adi Prayitno, dan Para Pemimpin Pemuda dari Kelompok Cipayung Plus.