Menyimak Ceramah Rektor IPB Arif Satria Soal Kebebasan Akademik Dan Demokrasi

Jakarta, Sayangi.com – Rektor Institute Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria, memaparkan hubungan kebebasan akademik dan demokrasi. Menurut dia, kebebasan akademik merupakan salah satu bentuk demokrasi secara makro. Kampus dituntut demokratis karena sejatinya kampus dibesarkan dengan cara-cara yang demokratis.

“Betapa tidak, yang diagungkan adalah rasionalitas dan ekspresi apapun sepanjang memenuhi standar rasionalitas sangat memungkinkan di kampus. Di sinilah yang membedakan “demokrasi di kampus dengan demokrasi secara makro di luar kampus,” papar Arif saat menyampaikan pidato refleksi akhir tahun bertajuk “Kebebasan Akademik dan Transformasi Demokrasi” di kantor DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (27/12/2019).

Hadir pada penyampaian pidato Arif Satria ini dihadiri anggota DPR RI Sri Meliyana, Presiden Asian African Youth Government Benni Pramula, mantan Kepala BNP2TKI Moh. Jumhur Hidayat, Ketua Umum DPP PGK Bursah Zarnubi, Dr. Connie Raka Untario dan ratusan aktivis pergerakan lintas generasi, mulai dari Cipayung plus, OKP, dan BEM lintas kampus.

Menurut Arif, tradisi “demokratis” dengan ciri kebebasan akademik tersebut membuat kampus memiliki ciri pokok rasional. Rasionalitas kampus, dijelaskan Arif, menjadi pembentuk watak kampus yang independen. Dan independensi tersebut yang kemudian membuay kampus semakin bernilai atau tidak.

“Semakin independen sebuah kampus, artinya semakin mengagungkan rasionalitasnya. Sebaliknya, semakin tidak independen sebuah kampus, artinya semakin ditanggalkan dan diganti dengan ikatan kepentingan sebagaimana berlaku dalam dunia politik praktis,” katanya.

Arif menegaskan, kehidupan rasional kampus merupakan modal bagi kampus dalam memposisikan diri dalam alam demokrasi. Sebab, kata dia, banyak orang, terutama politisi, yang berkepentingan terhadap kampus.

Namun, Arif menambahkan, politisi yang negarawan tidak akan pernah melakukan langkah-langkah yang merusak marwah kampus sebagai garda terdepan penjaga rasionalitas dan akal sehat.

“Kaum negawaran akan terus mempertahankan kampus sebagai alat demokrasi. Kebebasa akademik dan mimbar akademik yang kuat akan memperkokoh independensi kampus dari tarikan-tarikan kepentingan politik praktis,” tambah Arif.

Independesi dan idealisme tersebut, menurut Arif, merupakan modal kampus dalam menjaga kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik. Kebebasan akademik harus diletakkan dalam kepentingan bangsa ke depan.

“Kebebasan akademik merupakan instrumen demokrasi yang seharusnya melahirkan gagasan dan tindakan yang mengekspresikan sistem yang menjamin terwujudnya kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat,” katanya.