Akankah Konflik Amerika dan Iran Semakin Tak Terbendung?

Gambar Presiden Donald Trump yang dilempari dengan cat oleh peserta unjuk rasa di Manila, Filipina menentang serangan AS terhadap jenderal Qassem Soleimani. Foto
Gambar Presiden Donald Trump yang dilempari dengan cat oleh peserta unjuk rasa di Manila, Filipina menentang serangan AS terhadap jenderal Qassem Soleimani. Foto

Teheran,Sayangi.com Sejumlah pengamat telah menyampaikan kekhawatiran jika konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran akan menjadi awal terjadinya Perang Dunia Ketiga.

Saat ini Teheran tidak memiliki banyak dukungan militer kuat dibandingkan Amerika Serikat. Dukungan untuk Iran kebanyakan dari negara pemerintah Timur Tengah, seperti Irak, Suriah, dan Lebanon.

Bagaimanapun situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas, setelah serangan drone milik Amerika Serikat yang menewaskan jenderal Iran, Qassem Soleimani. Serangan yang dilakukan pemerintah Trump pekan lalu terjadi di kawasan dekat bandara Irak, Baghdad. Setelah kematian Qassem,  Iran lantas membalas dengan meluncurkan belasan peluru kendali ke dua pangkalan militer Irak, yang juga menampung tentara AS.

Menyusul serangan rudal hari Rabu (8/1/2020), Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, mengeluarkan pernyataan di Twitter bahwa Iran tidak berusaha “meningkatkan ketegangan ataupun perang.”

Namun beberapa jam setelah serangan rudal tersebut, sebuah pesawat penumpang Ukraina International Airlines yang terbang dari Bandara Imam Khomeini di Tehran jatuh. Jatuhnya pesawat penumpang milik Ukraine tersebut menewaskan sebanyak 176 orang di dalamnya.

Pekan ini dikabarkan informasi intelijen sejumlah negara, pesawat Boeing 7370-800 itu telah ditembak jatuh oleh rudal Iran, walau mungkin motifnya menurut beberapa pejabat negara Barat mungkin “tidak sengaja dilakukan”

Menyusul pernyataan Menlu Iran, Javad Zarif, bahwa serangan rudal Iran ke Irak sudah selesai. Dilaporkan ketegangan antara Iran dan AS pun menurun. Namun secara keseluruhan situasi di Timur Tengah masih panas.

Direktur Iran Project for Crisis Group, Ali Vaez, mengatakan masalah yang menimbulkan ketegangan dan konflik di Timur Tengah masih ada.

“Ketegangan yang ada sekarang karena tekanan AS yang membuat perekonomian Iran memburuk dan mendorong tindakan balasan yang dilakukan Iran,” kata Ali.

Tindakan balasan yang sudah dilakukan Iran antara lain serangan terhadap tanker minyak yang melewati Selat Hormuz, serangan fasilitas milik AS di Timur Tengah, termasuk pangkalan militer di Irak baru-baru ini.

“Ini sudah menciptakan tiga kali kemungkinan adanya konfrontasi militer Iran dan AS dalam enam bulan terakhir,” tambah Vaez. Sepanjang tekanan maksimum tetap dipertahankan dan pemerintahan Trump malah mengatakan akan melipatgandakan tekanan, saya kira sumber ketegangan tetap ada. Kemunculan konflik baru tinggal masalah waktu saja, imbuh Ali.

Namun kemungkinan terjadi perang terbuka antar kedua negara diperkirakan kecil, karena kedua belah pihak sudah mengatakan mereka sama sekali tidak menginginkan perang.

“Saya kira yang akan dilakukan Iran, melihat timpangnya kekuatan militer kedua negara, adalah melakukan atau terlibat konflik di tempat lain secara tidak langsung.” tambahnya.

Dalam jangka pendek, Ali Vaez mengatakan usaha sekutu Iran untuk mengusir AS dari Irak akan terus terjadi. Diantaranya lewat serangan roket atau bom pinggir jalan, juga sasaran lainnya seperti fasilitas minyak atau kapal yang melintas di Teluk.