46 Tahun Malari, Hariman Ingatkan Ketimpangan Ekonomi Harus Diatasi

Tokoh Malari Hariman Siregar memberi sambutan dalam acara Peringatan 46 Tahun Malari di Gedung Perfilman Usmar Ismail Jakarta Selatan, Rabu (15/1/2020).

Jakarta, Sayangi.com – Tokoh Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari) Hariman Siregar mengatakan situasi Indonesia saat ini tidak banyak berubah dari 46 tahun yang lalu dimana kesenjangan ekonomi di Indonesia masih tinggi.

Menurut Hariman, Selain memprotes modal asing yang masuk ke Indonesia secara ugal-ugalan, mahasiswa pada peristiwa Malari juga ingin meluruskan strategi pembangunan yang dinilai salah arah.

“Waktu Malari, mahasiswa memprotes strategi pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan, kami minta pemerataan ekonomi, pemberantasan kemiskinan dan hukum yang adil. Nah sekarang ini situasinya sama, tidak ada yang baru,” kata Hariman dalam acara Peringatan 46 Tahun Malari di Gedung Perfilman Usmar Ismail Jakarta Selatan, Rabu (15/1/2020).

Saat itu, menurut Hariman, mahasiswa berharap 20 tahun setelah peristiwa Malari, Indonesia bisa menjadi neagara raksasa setidaknya di Asia Tenggara. Namun dia menyayangkan yang terjadi hingga 46 tahun kemudian situasinya masih tetap sama, bahkan tertinggal dibanding negara tetanga.

“Kondisi kita sekarang bukan jadi raksasa kecil Asia Tenggara, tapi justru semrawut. Tak usah dibandingkan dengan Shanghai, kalau kita melihat Malaysia dan Vietnam bahkan Afrika Selatan, kita ini kumuh. Padahal kalau mengacu keunggulan dari sisi demografi mestinya kita sudah luar biasa,” kata Hariman.

Hariman selanjutnya mengingatkan, agar persoalan ketimpangan di Indonesia segera diselesaikan. Dia melihat praktik monopoli dan penumpukan kekayaan di segelintir orang masih terus terjadi. Bahkan dia menyoroti tumbuhnya ekonomi berbasis IT yang turut berkontribusi dalam menciptakan kesenjangan.

“Kita ambil contoh saja Amazon dan Google, termasuk Gojek. Uang yang dikeluarkan orang itu lebih banyak mengalir ke atas (owner), sementara yang di bawah tetap jadi buruh kasar,” katanya.

Dalam hal demokrasi, Hariman menilai meski kualitasnya menurun namun demokrasi kita tumbuh semakin matang. Hal itu setidaknya ditandai dengan pergantian rezim sejak zaman reformasi yang berlangsung damai, dan terutama fenomena politik terakhir dimana Prabowo Subianto yang merupakan lawan tanding Jokowi di Pilpres 2019 namun bersedia masuk kabinet.

“Ini adalah berkah bagi demokrasi Indonesia. Kalau tidak, blm tentu kita bisa berkumpul seperti ini” kata Hariman.

Sementara itu mantan Panglima TNI Joko Santoso ketika diberi kesempatan memberikan sambutan mengenang asal mula dia bisa dekat dengan Hariman Siregar. Waktu menjabat sebagai Pangdam Jaya sekitar tahun 2003, dia mendapat tugas untuk mengawasi Hariman Siregar. Namun dalam perkembangannya dia justru tertarik dengan pribadi Hariman dan membuatnya ingin kenal lebih dekat.

“Akhirnya saya bisa dekat dengan Hariman. Dalam pandangan saya, Beliau sangat mencintai bangsa ini. Karena cintanya idealis kadang suaranya memang keras,” kata Djoko Santoso.

Djoko menyadari bahwa suara keras Hariman dan kawan-kawan justru diperlukan oleh bangsa Indonesia. Baginya, bangsa Indonesia harus menaikkan daya kritis kepada keadaan yang tengah terjadi. Dan itu sudah dicerminkan oleh para mahasiswa sewaktu terjadinya peristiwa Malari pada 46 tahun silam.

“Kalau bangsa ini sudah tidak ada daya kritisnya, maka itu tanda-tanda dari datangnya lonceng kematian bangsa,” tegas Djoko Santoso.

Diskusi  20 tahun InDemo dan peringatan 46 tahun Malari kali ini  menampilkan narasumber pemikir muda Wijayanyo, Ph.D., Bilal Dewansyah. S.H., M.H (mahasiswa PhD Leiden)., Bhima Yudhistira, M.Sc., Zainal Airlangga, S.Hum., M.I.P, dipandu Herdi Sahrasad, pengajar Universitas Paramadina.

Turut hadir para tokoh nasional dan aktivis pergerakan seperti MS Hidayat, Dhaniel Dhakidae, Bursah Zarnubi, Gurmilang Kartasasmita, Yudilhery Yustam, M Jumhur Hidayat, B Wiwoho,  Dr Syahganda Nainggolan, Dr Sidratahta, Adhie Massardi, Hatta Taliwang dan seterusnya.