Senat Amerika Mulai Gelar Sidang Pemakzulan Trump

Presiden A.S. Donald Trump . Foto Reuters
Presiden A.S. Donald Trump . Foto Reuters

Washington,Sayangi.com- Senat Amerika Serikat (AS), pada hari Kamis waktu Washington, resmi menggelar sidang pemakzulan Presiden Donald Trump. Ini menjadi sidang impeachment ketiga dalam sejarah AS yang pernah digelar Senat terhadap seorang presiden Amerika.

Sidang pemakzulan presiden Trump dibuka dengan sumpah Ketua Mahkamah Agung John Roberts dan diikuti  100 anggota Senat Amerika.

Sebelumnya, tujuh manajer pemakzulan House of Representative atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang akan menuntut kasus terhadap Presiden Trump dan menyampaikan pasal-pasal pemakzulan dari DPR ke Senat. Penyampaian pasal-pasal itu memulai seremonial dari sidang pemakzulan. Dalam sidang ini  para senator akan memutuskan apakah Trump harus dilengserkan atau tidak.

Berawal dari 18 Desember 2019, DPR yang dikuasai Partai Demokrat dalam voting sepakat untuk memakzulkan Trump. Mantan pengusaha properti ini dinilai telah menyalahgunakan kekuasaan. Trump terindikasi menghalangi Kongres dalam penyelidikan atas dugaan penangguhan bantuan militer AS untuk Ukraina dalam upaya Trump menekan Kiev agar menyelidiki saingan politiknya, Joe Biden.

Trump menyebut proses impeachment terhadapnya sebagai “perburuan penyihir” yang dirancang untuk membalikkan hasil pemilu 2016 yang telah dia raih.

Namun Ketua Komite Intelijen DPR Amerika Serikat, Adam Schiff, saat mulai membaca pasal-pasal impeachment menyebut perilaku Trump, melanggar sumpah konstitusionalnya. Dalam urainnya Schiff menyebut  Donald J. Trump telah menyalahgunakan kekuasaan kepresidenan. Dan Konstitusi AS mewajibkan mayoritas dua pertiga—67 suara—di Senat untuk menghukum dan melengserkan presiden yang dimakzulkan dari jabatannya.

Tujuh manajer impeachment DPR Amerika mencakup Adam Schiff, Jerrold Nadler, Hakeem Jeffries, Val Demings, Jason Crow, Zoe Lofgren, dan Sylvia Garcia. Para manajer bertindak sebagai jaksa penuntut dalam sidang Senat dengan Ketua Mahkamah Agung John Roberts sebagai pemimpin sidang.

Ketua DPR Amerika Serikat, Nancy Pelosi, mengatakan pada konferensi pers mingguannya bahwa para anggota Senat dari Partai Republik “takut akan kebenaran” ketika ditanya apa tanggapannya terhadap Senat yang dikuasai Partai Republik yang mengatakan mereka tidak perlu mempertimbangkan bukti baru seperti materi Parnas karena tidak dimasukkan dalam investigasi DPR.

sumber: CNN news