Prancis Ingatkan Trump Bahaya Ubah Perjanjian Nuklir 2015

Foto Prensa Latina.
Foto Prensa Latina.

Jakarta,Sayangi.com- Prancis memperingatkan Preiden AS Trump, bahwa mengganti perjanjian nuklir 2015 dengan kesepakatan baru adalah sebuah langkah berbahaya. Kebijakan ini dikhawatirkan dapat memicu krisis baru di Timur Tengah, terutama dengan Iran.

Pernyataan itu diutarakan Paris merespons usulan Inggris untuk mengganti pakta tersebut dengan kesepakatan baru gagasan Presiden AS Donald Trump.

Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Olivier Chambard, mengatakan Prancis dan negara mitra yang terlibat dalam perjanjian itu seperti Jerman, China, Rusia, dan Uni Eropa meyakini bahwa perjanjian nuklir 2015 dengan Iran sangat penting.

Perjanjian tersebut penting untuk dipertahankan demi memastikan Teheran tak mengembangkan senjata kimia.

“Akan menjadi bahaya untuk mencoba membentuk perjanjian baru. Butuh waktu yang sangat panjang (untuk merampungkan perjanjian nuklir 2015). Jadi sangat penting bagi kami untuk menjaga dan berupaya semaksimal mungkin agar perjanjian nuklir ini bekerja,” kata Chambard kepada awak media di kantornya di Jakarta pada Rabu (22/1).

Chambard menuturkan Prancis sejak awal sangat terlibat dalam perjanjian nuklir yang berhasil digagas di era Presiden Barack Obama tersebut. Kami masih bekerja keras bersama mitra-mitra kami untuk menjaga perjanjian ini karena ini sangat penting demi memastikan Iran tak mempersenjatai diri dengan nuklir.

Saat ini upaya kami terbatas tapi dialog masih terus berjalan. Kami masih terus berkomunikasi dengan Iran dan AS,” kata Chambard

Kesepakatan yang dikenal dengan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) itu dibentuk demi mendorong Iran agar menghentikan program pengayaan uranium dan pengembangan senjata nuklir. Sebagai imbalan, negara Barat akan mencabut sanksi ekonomi yang selama ini dijatuhkan terhadap Iran.

Perjanjian itu terancam punah setelah Presiden Trump menarik AS keluar dari JCPOA pada 2018. Trump berdalih bahwa Iran tak menuruti komitmen dalam perjanjian yang dianggapnya terburuk sepanjang masa tersebut.

Sejak itu, eskalasi relasi AS dibawah Trump dan Iran terus meruncing. Puncak eskalasi Teheran-Washington terjadi ketika AS meluncurkan serangan drone hingga menewaskan salah satu jenderal Iran, Qasem Soleimani, di Irak pada 3 Januari lalu.

Serangan itu diperintahkan langsung oleh Trump tanpa persetujuan Kongres. Trump beralasan serangan itu perlu diluncurkan AS lantaran Soleimani tengah membuat rencana untuk menyerang fasilitas dan warga AS di Timur Tengah. Trump bahkan mengklaim Soleimani hendak menyerang empat kedutaan AS sebelum dirinya tewas.

Tak tinggal diam, Iran dan sekutunya, kelompok bersenjata di Irak meluncurkan belasan roket dan rudal terhadap beberapa basis militer dan kedutaan AS di Irak. Dilaporkan tak ada korban dan kerusakan signifikan akibat hujan rudal dan roket itu.

sumber: CNN News