AS Kerahkan Kapal Selam Yang Dibekali Senjata Nuklir Kecil

Kapal Selam AS terbaru dilengkapi rudal berkekuatan rendah. Foto World News
Kapal Selam AS terbaru dilengkapi rudal berkekuatan rendah. Foto World News

Washington,Sayangi.com- Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) mengumumkan pada hari Selasa (4/2/2020) bahwa pihaknya telah mengerahkan kapal selam. Dilaporkan kapal selam tersebut membawa rudal jarak jauh baru dengan hulu ledak nuklir yang relatif kecil. Pentagon mengklaim hal itu untuk menanggapi uji coba senjata serupa oleh Rusia.

Langkah ini adalah perubahan signifikan dalam postur pertahanan AS yang telah menimbulkan kekhawatiran bahwa hal itu dapat meningkatkan risiko perang nuklir.

Para kritikus khawatir bahwa senjata nuklir kecil atau hulu ledak nuklir “low-yield” akan lebih mungkin digunakan. Hal ini akan mengakibatkan lebih sedikit kerusakan, sehingga menurunkan ambang batas untuk konflik nuklir.

Akan tetapi Pentagon mengatakan sangat penting untuk menghalangi rival seperti Moskow.  Pejabat senior Kementerian Pertahanan John Rood dalam sebuah pernyataan menuliskan penempatan hulu ledak berkekuatan rendah, W76-2, adalah untuk mengatasi kesimpulan musuh potensial.  Penggunaan senjata nuklir hasil rendah akan memberi keuntungan kepada Amerika Serikat, sekutu dan mitranya.

W76-2 memiliki perkiraan daya ledak lima kiloton. Senjata ini beda dengan hulu ledak nuklir berkekuatan 455 kiloton dan 90 kiloton yang sudah dikerahkan di kapal selam AS lainnya. Hal itu dipaparkan dua pakar senjata nuklir, William Arkin dan Hans Kristensen, di situs web Federasi Ilmuwan Amerika.

W76-2 juga lebih kecil dari dua bom atom 15 kiloton dan 21 kiloton yang dijatuhkan pasukan AS di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang menjelang akhir Perang Dunia II pada tahun 1945.

Arkin dan Kristensen mengatakan hulu ledak kecil baru telah dikerahkan di kapal selam USS Tennessee, berpatroli di Samudra Atlantik. Pentagon mengindikasikan bahwa pihaknya akan mengerahkan senjata nuklir kecil di Ulasan Postur Nuklir 2018-nya.

sumber: AFP