Tulisan Der Spiegel ‘Coronavirus Made in China” Membuat Beijing Tersinggung

Kantor Federal Jerman (Bundestag) di Berlin. Foto Getty Image
Kantor Federal Jerman (Bundestag) di Berlin. Foto Getty Image

Berlin, Sayangi.com- Beijing marah dan mengecam beberapa media Jerman. Hal ini berpangkal dari apa yang Tiongkok sebut menyebarkan “diskriminasi dan xenofobia” dalam menghadapi wabah virus Corona baru yang mematikan.

Salah satu diantara media yang membuat Beijing marah karena berita utama di sampulnya menggunakan judul “Coronavirus Made in China (Virus Corona Buatan China)”.

Kedutaan Besar China di Jerman menuliskan “Beberapa perwakilan media dan media tertentu, yang konon telah menandatangani nilai-nilai objektivitas dan rasionalitas, tidak menghindar untuk menerbitkan pernyataan rasis dan mentolerir kecenderungan xenofobia, yang ditujukan khususnya terhadap China. Pemerintahan Beijing telah menyampaikan protes kuat dan ketidakpuasan terhadapĀ tulisan tersebut.

Melalui pernyataannya Dubes China di Jerman juga menuliskan “Kebebasan pers tidak dapat digunakan untuk menumbuhkan sentimen rasis di dalam masyarakat Jerman,”. Menurut kedutaan itu, orang China dan Jerman sama-sama secara terbuka menentang dengan “kecenderungan berbahaya” yang ditunjukkan oleh beberapa media.

Namun,para diplomat Beijing menolak mengidentifikasi nama-nama media yang mereka anggap rasis dalam pemberitaan.

Pernyataan ketersinggungan tersebut muncul hanya beberapa hari setelah salah satu majalah terkemuka Jerman. Der Spiegel, terbit dengan sampul yang memperlihatkan seseorang dengan alat pelindung dan judul berita utama; “Coronavirus. Made in China. When globalization turns into a deadly threat (Virus Corona. Buatan China. Ketika globalisasi berubah menjadi ancaman mematikan)”.

Sampul majalah itu tidak luput dari perhatian beberapa orang di Twitter. Para nitizen banyak berasumsi bahwa media itu jadi penyebab di balik gelombang kemarahan China. Beberapa pengguna Twitter menyebutnya “contoh jurnalisme yang mengerikan”. Namun ada juga pengguna Twitter yang mengatakan bahwa sampul terbaru majalah itu “bukan salah satu yang terbaik”.

Dilain pihak,harian Der Spiegel, tidak menghapus atau mengomentari artikel-artikel yang kemungkinan memancing tanggapan marah dari China.

sumber: Rusia Today