Dikawal Pasukan Bersenjata, Presiden El Salvador Duduki Kongres

Presiden Elsavador Nayib Bukele menduduki Kongres pada Minggu (9/2/2020) waktu setempat. Foto DW
Presiden Elsavador Nayib Bukele menduduki Kongres pada Minggu (9/2/2020) waktu setempat. Foto DW

San Salvador,Sayangi.com- Sekelompok tentara bersenjata dan Presiden El Salvador Nayib Bukele menduduki Kongres pada Minggu (9/2) waktu setempat. Pendudukan ini guna memaksa para anggota parlemen mendukung rencana memerangi kejahatan yang diluncurkan Bukele.

Dikawal tentara lengkap dengan seragam tempur, Bukele, 38, duduk di kursi ketua Kongres. Lantas ia menangkupkan tangannya untuk berdoa untuk bersabar dengan para anggota parlemen. Saat itu beberapa anggota parlemen sedang menggelar rapat khusus.

Sembari meninggalkan gedung parlemen, di luar gedung ruangan Bukele berpidato singkat. Pidatonya diantaranya berbunyi “Jika orang-orang tak tahu malu itu tidak menyetujui rencana kontrol wilayah, kita akan memanggil Anda lagi di sini Minggu depan,.

Bukele keturunan Palestina resmi dilantik menjadi presiden ke -45 negeri itu pada 1 Juni 2019.Kemenangan Bukele juga menandai kekalahan dua partai lawas yang berkuasa di El Salvador sejak 1992, yaitu Aliansi Republik Nasionalis (ARENA) yang konservatif dan FMLN.

Naiknya Bukele sebagai presiden sangat dibantu media sosial. Lewat medoso ia mengampanyekan program anti-korupsi dan kerap menyapa pendukungnya melalui Twitter dan Facebook.

Presiden yang sering mengenakan jaket kulit, celana jins biru mengecam Kongres yang menunda pengesahan pinjaman multilateral USD109 juga untuk melengkapi kepolisian dan tentara memerangi kejahatan.

Penduudkan gedung kongres kali ini banyak dikritik sejumlah pengamat. Para pengkritik memperingatkan Bulele dengan potensi krisis konstitusi. Human Rights Watch (HRW) menyebut kejadian itu sebagai pertunjukan kekuatan brutal. Untuk itu Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) harus segera bertemu untuk membahas situasi tersebut.

Ketua Kongres Elsavador Mario Ponce menyebutkan para anggota parlemen telah bertemu pada Senin (10/2) untuk membahas proposal presiden. Pertemuan ini tampaknya akan menjadi tanda penurunan ketegangan imbuh Ponce.
sumber: Reuters