Pembaharuan Misi Uni Eropa di Libya Alami Dilema

Uni Eropa

Brussel,Sayangi.com- Para menteri luar negeri Uni Eropa, Senin (17/2) setuju untuk meluncurkan lagi misi yang diperbarui. Misi baru sebagai upaya memantau dan menegakkan embargo senjata internasional terhadap Libya yang dicabik-cabik perang.

Setelah bertemu dengan mitra-mitra Eropanya, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengumumkan aset angkatan laut yang akan dikerahkan ke Laut Tengah untuk membantu menegakkan embargo senjata itu.

Kepada wartawan, Mass menyatakan rencana misi Uni Eropa tersebut merupakan langkah penting untuk memenuhi komitmen Uni Eropa yang dikemukakan di Berlin bulan lalu, pada sebuah konferensi internasional. Keputusan Berlin tersebut mencantumkan  langkah UE untuk menegakkan embargo senjata, guna menstabilkan negara di Afrika Utara.

Kami semua sepakat untuk membentuk misi guna menghalangi masuknya senjata ke Libya,” kata Menteri Luar Negeri Italia, Luigi di Maio, setelah pertemuan di Brussels.

Misi baru itu menghidupkan kembali Operasi Sophia yang diluncurkan pada tahun 2015. Operasi tersebut memiliki misi ganda yang membendung penyelundupan manusia dari Afrika Utara ke Eropa, serta berupaya menegakkan embargo senjata di Libya.

Tetapi sedikit  pengamat yang meyakini misi baru itu akan berdampak besar. Hal tersebut dapat terjadi karena aset angkatan laut Uni Eropa akan dikerahkan di wilayah yang jaraknya kurang lebih 100 kilometer dari pesisir Libya.

Terkait pengerahan di lepas pantai Libya itu  para pengecam di Uni Eropa mengatakan bahwa “misi tersebut akan segera berubah dari penegakan embargo menjadi penyelamatan migran”.

Dilaporkan Kanselir Austria Sebastian Kurz akan memimpin pembatasan misi ke zona geografis oleh para penyelundup senjata. Langkah keputusan ini satu-satunya cara untuk mengatasi tentangan terhadap pengerahan kapal perang oleh anggota Uni Eropa.

Pemimpin Austria itu selama berpekan-pekan telah menyatakan bahwa mengerahkan kapal ke Laut Tengah akan menjadi “faktor penarik” bagi migran yang berupaya mencapai Eropa dari Libya. Dikhawatirkan langkah ini akan menjadikan  Eropa menghadapi arus besar-besaran pencari suaka dari Timur Tengah dan Afrika.

sumber: AFP