Peran Politik Kaum Milenial Diharapkan Dapat Menyehatkan Demokrasi

Dialog Kebangsaan dengan tema “Kaum Milenial dalam Pusaran Politik Pilkada Serentak 2020” yang diselenggarakan oleh Badko HMI Sumabgsel bekerjasama dengan DPW PGK Sumsel di Guns Cafe n Resto Palembang, Kamis (20/02/2020).

Palembang, Sayangi.com – Hari ini Indonesia sedang mengalami bonus demografi dimana penduduk usia produktif mendominasi. Pemuda khususnya milenial diharapkan dapat mengambil peran sejarah pemanfaatan kondisi tersebut.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Bursah Zarnubi saat menjadi salah satu Narasumber di acara Dialog Kebangsaan dengan tema “Kaum Milenial dalam Pusaran Politik Pilkada Serentak 2020” yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Sumatera Bagian Selatan (Badko HMI Sumabgsel) bekerjasama dengan DPW Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Sumsel di Guns Cafe n Resto Palembang, Kamis (20/02/2020).

Bursah melanjutkan, hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan sosial yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, dan generasi yang dekat dengan kemajuan teknologi adalah generasi milenial.

Lebih lanjut, dalam satu dekade terakhir, peran milenial sudah merambah ke dalam kehidupan perpolitikan. Dengan jumlah populasinya yang besar saat ini, di momentum Pilkada Serentak pada 23 September 2020 nanti, tentu memiliki peranan vital.

“Dan diharapkan generasi milenial juga dapat terus bersinergi dan berkontribusi meningkatkan partisipasinya dalam mengawasi jalannya proses demokrasi dan Pilkada. Selain itu juga harus berperan aktif dalam mengkampanyekan proses politik sehat,” ungkapnya lagi.

Narasumber lain, Dr Markoni Badri Pakar Political Marketing terkait kaum milenial dalam Pusaran Politik menelisik dari dua perspektif. Perspektif pertama Generasi Milenial sebagai peserta Proses Demokrasi.

“Dalam catatan sejarah, kaum muda sudah mengisi posisi sebagai seorang pemimpin. Tetapi saat ini proses politik kita saat ini sudah dalam cengkraman oligarki, banyak kaum milenial yang mencoba untuk menjadi calon pemimpin hanya mengandalkan nama besar keluarga, bukan karena memiliki kapabilitas,” ujarnya.

Dan perspektif kedua, generasi milenial sebagai pemilih dan keikutsertaannya dalam menyokong serta mengawasi jalannya proses demokrasi, generasi milenial harus menjadi pemilih cerdas, jangan terbuai dengan politik uang, dan harus menjadi motor dalam gerakan politik sehat.

Senada Tokoh Aktivis Sumsel Husyam Usman mencermati bahwa fenomena politik uang sudah semakin mewabah. Dan fenomena ini membuat peluang generasi milenial dalam kancah perpolitikan semakin sulit. Karena generasi milenial identik dengan keminiman finansial dan jaringan.

“Dan salah satu hal yang bisa dilakukan oleh generasi milenial untuk mendobrak keadaan ini adalah dengan memanfaatkan kelebihan yang dimiliki generasi milenial yaitu kemampuannya menguasai teknologi,” ujarnya.

Dengan kemampuan ini, generasi milenial dapat tampil dan memanfaatkan sosial media dengan menciptakan hastag-hastag yang membangun kepercayaan serta menyadarkan masyarakat agar dapat menolak proses politik yang tidak sehat.

Pada kesempatan yang sama, Kapolda Sumsel diwakili Kasubdit I Intelkam AKBP Sigit menerangkan bahwa dari sisi keamanan, konflik biasanya banyak tercipta setelah hasil pelaksanaan pesta demokrasi berjalan. Keberhasilan jalannya suatu proses demokrasi 80 persen ada ditangan penyelenggara Pemilukada, dan sudah jadi kewajiban bersama untuk mengawasi kinerja penyelenggara. Hal ini adalah bentuk antisipasi pencegahan konflik.

“Mari bersama kita jaga predikat zero konflik yang disandang provinsi Sumsel, dengan menjaga dan berpartisipasi aktif, terutama dalam pengantisipasian konflik yang tercipta dalam gelaran Pilkada serentak mendatang,” tandasnya.