Jaksa Sebut Pelaku Penembakan di Bar Shisha Bermental Rasis

Foto Pelaku penembakan Bar Sisha di kota Hanau Jerman. Foto Daily Mail
Foto Pelaku penembakan Bar Sisha di kota Hanau Jerman. Foto Daily Mail

Berlin,Sayangi.com- Pihak berwenang Jerman mengkonfirmasi jika tersangka di balik dua penembakan di pusat kota Hanau menunjukkan tanda-tanda mentalitas yang sangat rasis. Dilaporkan sebelas orang, termasuk pelaku, tewas dalam insiden tersebut dan enam lainnya mengalami luka-luka.

Jaksa Agung Jerman, Peter Frank menuturkan lewat sebuah video dan manifesto yang diposting di situs tersangka, sikap tersangka tidak hanya pikiran gila dan teori konspirasi yang berbelit-belit, tetapi juga mentalitas yang sangat rasis. Frank mengutip ucapan tersangka di video itu sebagai alasan kantor jaksa agung mengambil alih investigasi.

“Jaksa penuntut sekarang harus mencari tahu, apakah ada pendukung atau kaki tangan lain dalam serangan Hanau,” ujar Frank seperti dikutip dari Deutsche Welle, Jumat (21/2/2020).

Frank mengatakan jaksa penuntut akan memeriksa lingkungan tersangka dan koneksi yang diketahui, baik di Jerman maupun di negara lain. Investigasi ini akan dipimpin oleh polisi kriminal federal,” Frank menambahkan.

Jaksa federal akan segera mengambil alih penyelidikan karena beratnya kasus ini. Tingkat tuntutan kasus ini terutama menangani kasus-kasus kejahatan terhadap negara.

Penuntut federal secara eksklusif berurusan dengan kejahatan serius dan merupakan penuntut tertinggi, atau otoritas polisi di Jerman.

Badan ini memiliki tugas utama menangani kasus-kasus kejahatan terhadap negara, termasuk pengkhianatan, spionase dan terorisme, serta kasus-kasus yang melibatkan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang.

Seorang peneliti senior di Flemish Peace Institute, Nils Duquet mengatakan, serangan sayap kanan berbeda dari jenis penembakan massal dan serangan biasa karena pelaku sering memiliki akses hukum ke senjata api. Sepertinya pelaku memiliki izin berburu,” katanya.

“Apa yang disadari oleh pasukan kepolisian di seluruh Eropa adalah bahwa mereka takut ekstremisme sayap kanan meningkat. Para ekstremisme ini dapat memiliki akses ke senjata baik secara legal maupun ilegal. Situasi dan konsisi yang seperti ini menimbulkan peringatan,” ujar Duquest.