Pemimpin Tibet Dalai Lama Peringati 80 Tahun Penobatannya

Pemimpin Spiritusl Tibet Dalai Lama. Foto AP
Pemimpin Spiritusl Tibet Dalai Lama. Foto AP

New Delhi,Sayangi.com- Dalai Lama pada Sabtu (22/2) memperingati 80 tahun penobatannya sebagai pemimpin spiritual Tibet. Tanggal 17 November 1950, ia naik takhta sebagai kepala negara Tibet. Anak kelima dari sembilan bersaudara keluarga petani ini dinyatakan sebagai tulku Dalai Lama ke-13 pada usia tiga tahun

Terlahir sebagai Lhamo Thondup, Dalai Lama ke-14 itu masih balita ketika terpilih sebagai inkarnasi baru pemimpin spiritual yang paling penting di Tibet. Mayoritas warga Tibet meyakini jiwa seorang biksu Buddha senior yang meninggal dunia, bereinkarnasi atau menjelma kembali ke dalam tubuh seorang anak kecil.

Saat ini Kini Dalai Lama tinggal di Kota Dharamshala, India utara. Pemimpin Spiritual Tibet ini telah mengasingkan diri puluhan tahun lalu. pengasiangannya bermula pemberontakan yang gagal terhadap penguasa China pada 1959.

“Sejak 1960an, saya tekankan berulangkali bahwa rakyat Tibet perlu seorang pemimpin, yang dipilih secara bebas oleh rakyat Tibet, kepada siapa saya dapat menyerahkan kekuasaan. Kini, telah tiba masanya untuk melakukan itu,” ujar Dalai Lama.

Terlahir sebagai Lhamo Thondup pulih dari infeksi paru-paru pada April lalu. Pemimpin spiritual Tibet 84 tahun itu mengatakan China lebih mengkhawatirkan sosok yang akan menjadi penerusnya.

Dalai Lama atau Tenzin Gyatso membantah memperjuangkan kemerdekaan bagi Tibet,dia menghendaki adanya transisi damai menuju Tibet yang otonom. Wilayah Tibet selama ini dikuasai Beijing sejak pasukan China merebut pada tahun 1950.

Pada April 2019, pulih dari infeksi paru-paru pada April lalu, pemimpin spiritual 84 tahun itu mengatakan China lebih mengkhawatirkan sosok yang akan menjadi penerusnya.

Beijing masih menganggap Dalai Lama sebagai reinkarnasi, sesuatu yang sangat penting, jadi mereka lebih khawatir soal Dalai Lama berikutnya,” ujar Dalai Lama.Dan otoritas China mengatakan para pemimpinnya punya hak untuk menyetujui penerus Dalai Lama, sebagai warisan yang diperoleh dari para kaisar China.

Namun banyak warga Tibet mencurigainya sebagai taktik untuk memperbesar pengaruhnya terhadap komunitasnya.