Warga Amerika Keturunan Afrika Waspadai Medso Konten Disinformasi Pilpres

Foto Rawpixel
Foto Rawpixel

Washington,Sayangi.com- Lembaga riset Nielsen menyebutkan warga Amerika keturunan Afrika termasuk pengguna media sosial terbanyak, terutama terkait informasi mengenai politik pilpres.

Intelijen AS menemukan hal ini telh menyebabkan mereka sebagai salah satu target utama dari kampanye disinformasi Rusia untuk mempengaruhi pilpres AS 2016. Situasi ini diperkirakan akan terulang kembali dalam pilpres tahun ini. Para mahasiswa Amerika keturunan Afrika mengatakan mereka memperoleh sebagian besar informasi politik dari media sosial.

Seorang mahasiswa bernama Royal Clemmons mengatakan, “Kita bisa mencari tahu apa saja yang perlu diketahui melalui media sosial. Saya rasa itu adalah tempat terbaik untuk mencari tahu semuanya.” Akan tetapi para pemilih ini mengatakan mereka mencermati informasi yang mereka terima di media sosial mengenai pilpres 2020. dan berusaha mencari tahu informasinya benar atau tidak.

Dikatakan saat ini kesadaran warga Afro terhadap isi medsos semakim meningkat. Namun tetap saja para pakar keamanan memperingatkan para pemilih mewaspadai kampanye misinformasi. Menurut para pakar miss informasi  bertujuan mempolarisasi dan memecah belah para pemilih.

Laporan Komite Intelijen Senat AS yang dirilis tahun lalu menyimpulkan bahwa “para agen Rusia menarget warga Amerika keturunan Afrika di media sosial. Besaran angka warga Afro lebih banyak dibandingkan kelompok manapun dalam kampanye pilpres 2016”.

Para pejabat Keamanan AS mengatakan para agen Rusia itu menciptakan unggahan media sosial palsu untuk mempengaruhi para pemilih berkulit hitam. Hal itu sengaja dilakukan untuk mengeksploitasi perbedaan sosial dan kesetiaan partisan  dan mengikis kepercayaan di antara warga Amerika dan institusi mereka.

Laporan Intelijen Senat itu mengatakan ribuan akun Facebook, Twitter, Instagram dan You Tube diciptakan oleh Dinas Riset Internet yang berbasis di Rusia. Dan kreasi ini untuk merugikan kampanye Hillary Clinton dan mendukung Donald Trump.

Perusahaan-perusahaan media sosial mengatakan mereka telah menggandakan upaya-upaya keamanan. Upaya tersebut bertujuan mencari dan menghapus kampanye manipulasi terkoordinasi sebelum konten jahat itu tersebar.

sumber: VOA