PGK Lebak Dorong Pemerintah Desa Proaktif Tingkatkan Kualitas SDM Pemuda

Suasana Diskusi PGK Lebak dengan tema" Peranan Pemuda Sebagai Tulang Punggung Memanfaatan Bonus Demografi Untuk Menyonsong Masa Depan Indonesia Yang Lebih Baik" di Lebak Banten, Rabu (4/3/2020).

Banten, Sayangi.com – Kepala Desa dan jajarannya didorong ikut andil menjadi bagian dari pengembangan sumber daya manusia (SDM) karena Indonesia menjadi negara yang sudah memasuki bonus demografi.

Hal tersebut dikatakan kader Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK), Enday Hidayat saat menjadi pembicara diskusi bertajuk” Peranan Pemuda Sebagai Tulang Punggung Memanfaatan Bonus Demografi Untuk Menyonsong Masa Depan Indonesia Yang Lebih Baik” di Kantor Kecamatan Leuwidamar Kab.Lebak Propinsi Banten, Rabu (4/3/2020).

Diskusi publik yang diinisiasi PGK Lebak ini bekerja sama dengan Kecamatan Leuwidamar. Diskusi dihadiri oleh seluruh Lapisan masyarakat, Kepemudaan, Kapolsek, Danramil, para kepala desa serta Teman-Teman Karang Taruna.

Menuru Enday, pemerintah desa tidak boleh diam. Bonus demografi harus dimanfaatkan untuk mendorong anak-anak muda meningkatkan SDM. Hal ini dikatakan Enday, untuk mendorong generasi muda atau milenial mengembangan ekonomi dari berbagai sektor.

“Saya memandang, hal yang paling penting dalam arus bonus demografi ini adalah bagaimana pemerintah mengupayakan peningkatan SDM, membuka lapangan kerja di desa, baik dari sektor Industri Kreatif, pertanian, maupun perikanan untuk mengembangkan ekonomi desa,” kata Enday.

Menurut Enday, salah satu cara yang dapat diupayakan pemerintah desa dalam mengembangkan SDM kaum muda adalah menyadarkan betapa pentingnya paradigma dan kualitas pendidikan. Menurutnya, anggaran dana desa dapat dialokasikan kepada anak-anak desa untuk membiayai sekolah.

“Pemerintah desa sebagai pemangku kebijakan yang memiliki anggaran cukup besar, haruslah mengalokasikan dananya untuk biaya pendidikan bagi yang tidak mampu. Pemerintah desa harus membangun komunikasi yang intensif dengan dinas-dinas terkait agar anak-anak muda tidak putus sekolah, serta segera menindak lanjuti arahan dari Mendagri terkait program “Satu desa Satu Perpustakaan”.

“Saya membayangkan jika setiap desa minimal ada 5 sampai 10 oranng yang mampu menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi dengan bantuan dana desa, serta desa mampu menggerakan anak muda lewat Bumdesnya membangun perekonomian desa di lintas sektor, maka 5, 10 smpai 20 tahun kedepan desa tersebut pasti akan berkembang pesat,” tukas dia.

Endai menambahkan, kualitas pendidikan dan SDM unggul generasi muda akan menentukan masa depan Indonesia.

“Memang pada akhirnya pendidikanlah yang menjadi kunci kemajuan suatu bangsa. Suatu bangsa tidak akan pernah maju, jika pendidikan diabaikan,” tandasnya.