Singapura Anggap Pendatang Pengidap Covid-19 sebagai Beban

Bandara Changi Singapura selalu sibuk dengan wisatawan keluar masuk. Foto Reuters
Bandara Changi Singapura selalu sibuk dengan wisatawan keluar masuk. Foto Reuters

Singapura Sayangi.com- Singapura sampai saat ini masih berstatus oranye terkait wabah Virus Corona. Pemerintah Singapura menganggap pendatang yang mengidap virus corona Covid-19 sebagai beban untuk sumber daya dan fasilitas kesehatan. Hal ini lantaran beberapa kasus yang ditemukan berasal dari penularan luar negeri.

Kementerian Kesehatan Singapura dalam pernyataan tertulis pada Ahad (15/3), menyebutkan ada 25 kasus baru positif COVID-19 per Sabtu (14/3) pukul 12:00 waktu Singapura. Dari sekian jumlah tersebut, lebih dari tiga perempat kasus merupakan penularan dari luar negeri (imported case).

Pernyataan tersebut menuliskan Hampir 90 persen-nya merupakan warga negara Singapura, penduduk tetap, dan pemegang izin tinggal jangka panjang. “Selama periode yang sama, lebih dari seperempat kasus penularan dari luar negeri berasal dari ASEAN.

Pernyataan tersebut juga menyatakan “Kami telah melihat sejumlah kasus ini dimana memasuki Singapura dengan tujuan mencari perawatan medis. Situasi ini yang membebani sumber daya kesehatan Singapura secara signifikan selama periode kritis ini, disaat kami sedang fokus untuk mengendalikan situasi di Singapura,”

Pemerintah di Singapura tidak memulangkan warga negara asing (WNA) yang terbukti positif COVID-19. Dan sejak 7 Maret pemerintah Singapura mewajibkan WNA membayar sendiri biaya perawatan. Dilaporka nilai biaya pengobatan mencapai rata-rata sekitar 6.000 sampai 8.000 dolar Singapura (setara Rp. 61.000.000 hingga Rp.81.000.000

Kendati demikian, pemerintah Singapura masih membebaskan biaya pemeriksaa COVID-19 untuk WNA. Per 16 Maret pukul 23:59 waktu setempat otoritas Singapura akan meningkatkan langkah pencegahan.

Pemerintah Singapura akan mewajibkan seluruh pendatang, baik warga negara Singapura maupun WNA, untuk mengisolasi diri selama 14 hari (Stay-Home Notice). Sebagaimana disampaikan Kementerian Kesehatan, para pendatang wajib menginformasikan lokasi isolasi diri dan menjalani pemeriksaan kesehatan seperti pengambilan sampel dari tenggorokan (throat swab).

Tidak hanya itu, pendatang dari negara-negara di kawasan ASEAN dengan izin tinggal jangka pendek juga diwajibkan memberikan informasi riwayat kesehatan lengkap ke kantor perwakilan Singapura di negara asal sebelum tiba di negara tersebut. Formulir riwayat kesehatan itu perlu mendapat persetujuan dari Kementerian Kesehatan Singapura dan persetujuan itu akan diverifikasi oleh Otoritas Imigrasi (ICA).

“Pendatang dengan izin masuk jangka pendek yang tidak menunjukkan dokumen riwayat kesehatan lengkap berikut persetujuan dari akan ditolak masuk ke Singapura. Oleh karena itu, dianjurkan untuk para pendatang mengurus dokumen tersebut sebelum memesan tiket penerbangan,”imbuh release Kementrian esehatan Singapura.

sumber: Antara