Virus Corona Ubah Kebiasaan Masyarakat Dunia

Foto Istimewa
Foto Istimewa

Tokyo,Sayangi.com- Merebaknya dan penyebaran virus Corona baru, Covid-19 terus berdampak pada kehidupan sehari-sehari warga dunia. Masyarakat di seluruh dunia mulai mengubah kebiasaan sehari-sehari mereka untuk mencegah penyebaran virus.

Karena tangan dianggap sebagai mediasi masuknya Covid-19 ke tubuh seseorang, kampanye katakan tidak pada jabat tangan, tolak setiap kecupan di pipi dan jangan sampai memeluk mulai muncul di sejumlah negara. Sebagai gantinya, warga diminta untuk memberikan isyarat atau melalukan tos kaki.

Dari Beijing, China, dilaporkan orang-orang diberitahu untuk tidak berjabat tangan. Pengeras suara memberitahu orang-orang untuk membuat gerakan gong shou, kepalan tangan di telapak tangan yang berlawanan, untuk menyapa warga lain.

Dari Prancis, dikabarkan surat kabar telah diisi dengan saran tentang cara mengganti ciuman di pipi,sapaan sehari-hari di Prancis dan berjabat tangan, formalitas yang biasa dilakukan di tempat kerja. Pakar etiket Prancis, Philippe Lichtfus mengatakan, jabat tangan adalah perkembangan yang relatif baru yang dimulai pada Abad Pertengahan. Dia mengatakan, hanya dengan menatap mata seseorang saja sudah cukup sebagai salam.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Jerman, Horst Seehofer menolak upaya Kanselir Angela Merkel untuk bersalaman dengannya dan lebih memilik tersenyum dan menjaga kedua tangannya untuk dirinya sendiri. Mereka berdua tertawa dan kemudian Merkel mengangkat tangannya sebelum duduk.

Di negara Brazil, Kementerian Kesehatan setempat telah merekomendasikan agar warga negara tidak berbagi sedotan logam. Sedotan ini biasanya digunakan untuk mengkonsumsi minuman Amerika Selatan yang kaya kafein, yang juga dikenal sebagai chimarrao. Sementara itu ciuman, bahkan jika tidak di mulut, tidak disarankan sebagai bentuk salam.

Di Selandia Baru, beberapa lembaga pendidikan di Selandia Baru untuk sementara meninggalkan salam Maori yang dikenal sebagai hongi. Ucapan salam tersebut biasanya melibatkan dua orang menyatukan hidung mereka. Politeknik Wellington, WelTec, mengatakan bahwa alih-alih staf menyapa siswa baru dengan hongi, upacara penyambutannya akan mencakup waiata, atau lagu Maori.

Sedangkan di Timur Tengah, khususnya di Uni Emirat Arab, serta Qatar, warganya diminta untuk menghentikan salam tradisional “hidung ke hidung”. UAE juga mengatakan bahwa orang tidak boleh berjabatan tangan. Pemerintah UEA menghimbau salam dengan “Melambai saja cukup.

sumber: Japan Today