Prediksi ILO : Virus Corona Bakal Rumahkan 25 Juta Pekerja

Ilustrasi Laporan ILO Wilayah Washington DC. AdeBooks
Ilustrasi Laporan ILO Wilayah Washington DC. AdeBooks

Washington,Sayangi.com- Jumlah pengangguran akibat wabah Corona diprediksi terus bertambah. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, dunia kehilangan lebih dari 25 juta pekerjaan akibat krisis virus Corona, Kamis (26/3). Jumlah Perkiraan saat ini melonjak tajam dari prediksi pada kisaran 5,3 hingga 24,7 juta pekerjaan yang hilang pada minggu lalu.

Direktur Departemen Kebijakan Ketenagakerjaa Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Sangheon Lee, memprediksi skala pengangguran sementara, PHK, dan jumlah klaim tunjangan pengangguran jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya. Lee menyatakan “Kami mencoba memasukkan faktor guncangan besar sementara ke dalam pemodelan estimasi kami. Besarnya fluktuasi jauh lebih besar dari yang diharapkan.

Dilaporkan Amerika Serikat (AS) yang menjadi salah satu pusat ekonomi dunia sedang terpukul oleh virus Corona. Negara ini melakukan langkah-langkah untuk mengatasi pandemi membuat aktivitas negara terhenti. Jumlah warga yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran dilaporkan melonjak menjadi lebih dari 3 juta pekan lalu.

Jumlah ini memecahkan rekor sebelumnya yang ditetapkan 695 ribu pada tahun 1982. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan klaim akan meningkat menjadi 1 juta, meskipun perkiraan tertinggi bisa mencapai 4 juta.

“Pengangguran sangat sensitif dan fluktuatif dalam menanggapi aktivitas ekonomi, yang cukup mengkhawatirkan dalam pandangan kami,” kata Lee. Data tersebut ditambahkan ke posisi mengkhawatirkan yang dijabarkan oleh Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, James Bullard.

Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis memperingatkan bahwa hingga 46 juta orang dari hampir sepertiga dari pekerja AS dapat kehilangan pekerjaan dalam waktu singkat.

Sangheon Lee menegaskan sentimen di kalangan bisnis mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk kembali ke kegiatan normal. Mereka membuat keputusan cepat untuk menyesuaikan tenaga kerja mereka daripada mempertahankan pekerja,ujar Lee.
sumber: Reuters