PBB Nyatakan 74 Juta Warga Jazirah Arab Terancam Covid-19

Foto/Ilustrasi: suaraborneo.com

Beirut,Sayangi.com- Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Barat (ESCWA) mengatakan 74 juta orang di negara-negara Arab berisiko terinfeksi virus korona Covid-19. Hal itu lantaran mereka tak memiliki akses ke fasilitas cuci tangan dasar.

ESCWA mengungkapkan mencuci tangan dengan sabun dan air merupakan salah satu cara efektif mencegah penularan Covid-19. Lembaga internasional tersebut memperkirakan kebutuhan air bagi setiap warga Arab akan meningkat antara sembilan hingga 14 liter per hari. Jika dikalkulasi, diperlukan empat sampai lima juta meter kubik air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Ketiadaan akses ke fasilitas cuci tangan dasar diperburuk pasokan air pipa yang tidak memadai di 10 dari 22 negara Arab. ESCWA menyebut hampir 87 juta orang di wilayah Arab juga tidak memiliki akses ke sumber air minum yang lebih baik di rumah-rumah.

ESCWA mengatakan mereka yang diwajibkan untuk menyediakan air dari sumber publik setiap hari menghadapi risiko infeksi Covid-19 lebih besar. “Diperkirakan 26 juta pengungsi dan orang-orang terlantar internal di wilayah ini juga berisiko lebih tinggi tertular Covid-19 karena kurangnya air, sanitasi dan layanan kebersihan yang memadai,” ungkap ESCWA dalam sebuah pernyataan pada Rabu (15/4). .

Tak lupa ESCWA juga menyoroti kondisi di Jalur Gaza. Komisi Kesehatan PBB ini menyebut dari sepuluh rumah tangga di sana, hanya satu yang memiliki ke air bersih. Kehidupan warga semakin sulit karena blokade yang diterapkan Israel.

Saat ini berita ini diturunankan beberapa negara Arab masih menghadapi peningkatan kasus Covid-19.Negara  Yaman, Suriah, dan Palestina adalah beberapa negara yang dianggap rentan terhadap wabah. Suriah dan Yaman diketahui hingga kini masih dibekap peperangan. S

ementara Palestina berada di bawah pendudukan Israel. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lebih menyoroti kondisi di Jalur Gaza yang telah diblokade selama 14 tahun. Direktur WHO untuk Wilayah Palestina Dr Gerald Rockenschaub mengatakan Gaza memiliki fasilitas karantina yang minim air bersih.

sumber : Anadolu Agency