Wawancara Burhan Magenda: Zulkifli Hasan Sowanlah ke Amien Rais

Burhan Djabir Magenda (Foto: Sayangi.com)

Sayangi.com – Ketegangan antara Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan belum ada tanda-tanda akan mencair. Bahkan secara kasat mata konfliknya semakin meruncing yang ditandai dengan mundurnya Hanafi Rais, putra sulung Amien Rais dari Kepengurusan DPP PAN, Ketua Fraksi PAN DPR RI, dan Anggota DPR RI.

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia Burhan Djabir Magenda menyayangkan konflik yang terjadi antara dua besan ini, apalagi kalau sampai berujung pada pembentukan partai baru sebagai pecahan PAN. Dalam wawancara dengan Redaksi Sayangi.com, Jum’at (8/5/2020) malam, Prof Burhan mengatakan PAN perlu dikelola dengan prinsip akomodatif, realistis, tapi tetap menjaga idealisme. Dia juga menyarankan Zulkifli Hasan sebagai pihak yang lebih muda mengambil inisiatif untuk sowan ke Amien Rais hingga perlunya dilakukan heart to heart meeting antara kedua pihak.

Berikut petikan wawancara selengkapnya:

Anda melihat PAN saat ini seperti apa pasca mundurnya Hanafi Rais?

Saya kira memang ada konflik antara Mas Amien Rais dengan Bang Zulkifli Hasan. Mas Amien ingin tradisi Ketua Umum PAN cukup sekali, tapi itu kan tidak ada di Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), jadi secara aturan bisa saja Bang Zulkifli dua kali memimpin partai, meskipun ini memang belum pernah terjadi di PAN sebelumnya. Itulah mungkin yang membuat Mas Amien Rais agak kecewa. Selain itu, Hanafi mundur katanya karena dia merasa Bang Zul terlalu akomodatif terhadap pemerintahan Jokowi, sedangkan Mas Amien Rais lebih ingin PAN sebagai oposisi. Jadi itu saya kira sumber masalahnya.

Dalam pandangan saya, Bang Zul ini pragmatis. Dia mempertimbangkan kehidupan organisasi dan perkembangan politik nasional, jadi dia lebih realistis-pragmatis. Sedangkan Mas Amien Rais dan Hanafi mungkin terlalu idealistis, makanya ada dorongan jadi oposisi.

Dulu kan waktu pemerintahan Jokowi periode pertama ada wakil PAN di kabinet yaitu Asman Abnur sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Raformasi Birokrasi (MenPAN-RB). Di kabinet sekarang saya tidak tahu apakah nanti akan ada atau tidak, bisa saja PAN diberikan posisi oleh Jokowi kalau misalnya Bang Zulkifli dianggap cukup akomodatif.

Dalam pendangan saya, Mas Amien ini orangnya kurang realistis dan sangat idealis. Kadang-kadang politik itu juga harus pragmatis, tetap ada idealismenya tapi mesti melihat juga situasi dan kondisi partai, apa yang terbaik untuk partai.

Menurut Anda posisi PAN sebaiknya ada di dalam apa di luar pemerintahan, dari sisi kebutuhan demokrasi?

Saya kira yang terpenting ya kepentingan partai itu sendiri, itu yang paling pokok. Kalau soal demokrasi baik yang di dalam maupun di luar pemerintahan kan sama sama demokrasi, ini zamannya sudah demokrasi. Jadi itu soal kebijakan saja, ya tergantung kepada partai. Relitasnya, PAN di daerah itu banyak wakilnya di DPRD dan kepala daerah, termasuk dulu Gubernur di Sulawesi Tenggara Nur Alam kan kader PAN.

Sebaiknya memang PAN itu mesti akomodatif tapi tetap menjaga idealisme. Soal Mas Amien ini saya tidak tahu, sebab Prabowo saja sudah masuk di kabinet. Mungkin ada masalah pribadi juga dengan Bang Zul. Ini kan perpecahan juga terjadi di anak-anak Mas Amien. Hanafi keluar, sementara Mumtaz tetap di barisan Bang Zul.

Bagaimana kalau perseteruan ini berujung pada pembentukan partai baru oleh Amien Rais dan Hanafi?

Sangat disayangkan. Saya dengar katanya memang mau dibentuk PAN reformasi oleh Amien Rais. Saya tidak tahu kenapa Bang Zul ini, padahal kan biasa saja kalau di Kongres itu ada perbedaan-perbedaan kemudian habis itu kita merapat lagi, mestinya kulonuwun lah dia ke Mas Amien, apalagi meraka besan. Kita tidak tahu kenapa kok bisa seperti itu, mungkin karena waktu kongres Mas Amien tidak mendukung Bang Zul, dan Mulfachri juga ngotot sehingga terjadi seperti Perang Bubat. Itu sangat disayangkan, kalau PAN pecah suara akan berkurang karena itu basis pemilihnya hampir sama.

Kalau disederhanakan konflik di PAN ini berlarut-larut karena terganggunya komunikasi antara Amien Rais dan Zulkfli Hasan. Saran Anda untuk keduanya seperti apa?

Saya kira Bang Zul sebagai pihak yang lebih muda sowanlah ke Mas Amien. Itu saran saya sebelum terlambat, sebelum ada partai baru.

Apakah Anda melihat ada upaya untuk menyingkirkan Amien Rais dari PAN?

Saya tidak tahu siapa yang mempengaruhi Bang Zul, tapi saya kira perlu ada kejernihan antara dua kelompok ini, bisa dilakukan heart to heart meeting antara Bang Zul dan Mas Amien. Itu bisa selesai sebelum ada partai baru.

Kalau sampai dibentuk partai baru, seperti apa prospek PAN kedepannya?

Saya kira akan pecah suara itu, apalagi dengan Parliamentary Threshold yang terus naik jadi tidak mudah. Saya kira nantinya antara PAN dan partai baru itu akan lebih kuat partainya Mas Amien, kalau suara muhammadiyah ke dia. Bagaimanapun Mas Amien ini mantan Ketua Umum Muhammadiyah satu-satunya yang berani bikin partai, basis suara Muhammadiyah akan ke sana, sementara Bang Zul ini tidak punya massa yang realistis, hanya PAN saja. Sudahlah, Bang Zul sowan saja ke Mas Amien.

Baca Juga: Hanafi Rais Mundur, Chandra Tirta Ungkap Perbedaan Garis Politik Hingga Kezaliman