Perekonomian Indonesia di Bawah Bayang-bayang Gelombang Perubahan Dunia (Bagian II)

Andi Rahmat

Oleh: Andi Rahmat
Pelaku Usaha, Mantan Wakil Ketua Komisi XI DPR RI

Sayangi.com – Tidak lama berselang setelah Amerika Serikat pada tahun 1971 memperkenalkan sistem Fiat Money (Uang Fiat) menggantikan Emas sebagai standar nilai tukar mata uang dunia. Pada tahun 1973, mulai diperkenalkan sistem SWIFT (Society for Worldwide International Financial Telecommunications). Institusi ini berbasis di Belgia dan tunduk pada hukum Belgia.

Namun dalam perkembangannya, proses kerjanya makin terkoneksi dengan sistem keuangan Amerika Serikat. Keperkasaan Dollar Amerika sebagai mata uang global berkelindan dengan kuatnya penetrasi sistem SWIFT dalam mevalidasi dan memberi alas transaksi ekonomi lintas batas.

Tapi Pandemi telah mengakselerasi tuntutan untuk merubah mode bertransaksi dunia. Inilah kenyataan keempat yang sedang mengalami perubahan cepat. Mode bertransaksi dunia berakselerasi cepat menuju mode baru. Jika Perang Dunia kedua meneguhkan dominasi Dollar Amerika dan Breton Woods mengesahkan Dollar Amerika sebagai “benchmark” nilai tukar, maka pandemi merubah mode bertransaksi global.

China, Rusia dan Uni Eropa sebelum pandemi pun telah berusaha untuk mengimbangi penetrasi SWIFT dan dominasi Dollar. China ditahun 2015 telah memperkenalkan CIPS (Crossborder Interbank Payment System) yang berbasis renminbi. Uni Eropa memperkenalkan INSTEX (Instrumen in Support Trade Exchange) untuk menghindari dominasi Dollar dan sistem SWIFT.

Diluar itu, makin berkembangnya teknologi Blockchain yang memghasilkan Cryptocurrency juga turut mempengaruhi perubahan landskape transaksi dunia.

Pandemi ini sesungguhnya memberi kesempatan besar bagi Dollar dan SWIFT sistem untuk meneguhkan posisinya. Dengan mencetak dan membanjiri dunia dengan likuiditas Dollar, Amerika sesungguhnya sedang mengarahkan perubahan mode transaksi global kepada keinginannya. Ditambah lagi kehadiran Bank Sentral Amerika, The Fed dibelakang tidak kurang dari 70 Bank Sentral berbagai negara melalui skema Credit Line Swap bagi kebutuhan Dollar negara- negara tersebut.

Soalnya bukan pada apakah dominasi dollar dan SWIFT masih akan bertahan atau tidak. Yang menjadi pokok dalam perubahan ini adalah menguatnya alternatif-alternatif baru yang menuntut konsensus baru pula. Apakah dunia akan berubah menjadi Dual Mode Transaction yang memperhadapkan Amerika Serikat dengan China ataukah akan berakhir dengan Multi-mode dimana China, Amerika Serikat dan Uni Eropa akan berkohabitasi?

Apapun jawabannya. Cara kita menjalankan perdagangan global selamanya telah berubah. Karenanya, Institusi Keuangan baik Bank Sentral maupun institusi non-negara seperti perbankan juga diperhadapkan pada tuntutan penyesuaian yang mendasar. Baik itu dalam bentuk “currency” maupun dalam layanan transaksi.

Kenyataan kelima, Pekerjaan dan Lapangan Pekerjaan. Pandemi, mungkin merupakan cara “alamiah” dalam mendesrupsi dua hal ini. Diseluruh dunia, Menurut International Labour Organization ( ILO) tidak kurang dari 200 juta orang kehilangan pekerjaan baik langsung maupun tidak langsung akibat pandemi Covid 19. Pada kuartal ke-2 tahun ini, 6,7% jam kerja hilang diseluruh dunia, atau setara dengan 196 juta pekerja penuh yang kehilangan pekerjaannya.

Masih menurut laporan ILO, hanya 35,4% sektor lapang pekerjaan yang memiliki resiko kecil untuk terdampak. Sektor itu seperti Pertanian ( 26,5%), Kesehatan (4,1%) dan Pendidikan (5,3%). Adapun 64,6% sektor-sektor lain berada pada zona kritis. Dengan sektor seperti retail (14,5%), manufaktur (13,9%), makanan dan akomodasi (4,3%) terdampak sangat buruk.

Soalnya adalah kecepatan disrupsinya mengalami akselarasi yang sulit dipulihkan. Menjadi “alamiah” seperti yang kami kemukakan sebelumnya, dikarenakan akselerasi ini pada dasarnya merupakan resultansi dari perubahan cara produksi dan konsumsi yang memang sudah terjadi sebelum pandemi ini terjadi.

Hilangnya pekerjaan akibat perubahan cara produksi dan konsumsi tidak mudah dijawab dengan pendekatan lama. Otoritas ditantang untuk menciptakan sektor-sektor baru yang tergerus daya ungkitnya selama ini dan makin terpuruk dimasa krisis. Retail, Manufaktur, Akomodasi dan Makanan ( terutama restoran dan semacamnya ) telah menjadi korban permanen dalam disrupsi akseleratif ini. Demikian juga dengan transportasi.

Bisnis akan terus melakukan upaya upaya untuk menyembuhkan luka ini dan menemukan cara untuk bertahan dalam penyesuain. Sementara otoritas dituntut menemukan solusi jangka panjang untuk mendorong penciptaan lapangan pekerjaan yang hilang.

Indonesia sebagai “emerging economy” dan “middle income economy” tidak bisa lepas dari perubahan global ini. Melakukan adaptasi cepat adalah cara terbaik untuk menjawab tantangan perubahan ini. Cara beradaptasi kita lah yang menentukan wajah kompetitif perekonomian Indonesia di masa depan. Pandemi ini akan berubah menjadi momentum baik bagi upaya kita meletakkan fondasi perekonomian di masa depan. Semuanya terletak pada usaha kita semua, Pemerintah, Pelaku Usaha dan Masyarakat. Dengan izin Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Wallahu ‘alam.

Baca Juga: Perekonomian Indonesia di Bawah Bayang-bayang Gelombang Perubahan Dunia (Bagian I)