Pandemi Belum Berakhir, DPR Dukung Rencana Penundaan Pembukaan Sekolah

Hetifah Sjaifudian / Foto: Istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan tahun ajaran baru 2020/2021 pada tanggal 13 Juli mendatang. Meski demikian, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud), Hamid Muhammad mengatakan, belum tentu sekolah dapat kembali dibuka pada awal tahun ajaran baru.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mendukung ditundanya pembukaan sekolah. Karena saat ini yang terpenting ialah keselamatan para pendidik dan peserta didik.

“Hal-hal lainnya seperti ketuntasan kurikulum itu nomor dua. Dengan kondisi saat ini, sebaiknya memang pembelajaran tatap muka ditunda dulu,” ujar Hetifah dalam keterangan tertulisnya, Rabu (3/6).

Pemerintah, sambung Hetifah, seharusnya fokus memperbaiki kualitas pembelajaran jarak jauh (PJJ). Karena menurutnya, awal tahun ajaran lebih baik dilakukan secara PJJ sambil menunggu kondisi kembali normal

“Tahun ajaran baru tidak apa-apa dimulai 13 Juli, namun sebaiknya dilakukan jarak jauh. Evaluasi yang ada dari PJJ di tahun ajaran kemarin sebaiknya diperbaiki di bulan-bulan ini,” jelasnya.

Politisi Golkar ini juga Kemendikbud berkoordinasi dengan Kemenkominfo untuk meningkatkan akses internet hingga ke daerah 3T. Pasalnya di sejumlah daerah masih mengalami kesulitan menerapkan PJJ.

“Untuk daerah-daerah tertentu yang memang sangat sulit sekali melaksanakan PJJ, mungkin memang harus dibuka demi memastikan pelayanan pendidikan tetap berjalan. Namun demikian, ini merupakan opsi terakhir,” ungkapnya.

Lebih jauh Hetifah menambahkan bila terpaksa sekolah memang harus dibuka, terdapat persyaratan ketat yang harus dipenuhi. Yang paling terpenting ialah sekolah tersebut tidak berada di zona merah kasus Covid-19.

“Sarana prasarana yang mendukung protokol kesehatan juga harus terpenuhi, seperti adanya sarana cuci tangan dan sistem UKS yang memadai. Jika prasyarat ini belum bisa dipenuhi, sebaiknya jangan mengambil risiko,” paparnya.