Polisi Hongkong Ciduk 25 Demonstran Mengenang “Juni”

Masyarakat Hongkong memperingati mengenang Juni. Foto Asian Time
Masyarakat Hongkong memperingati mengenang Juni. Foto Asian Time

Hongkong,Sayangi.com- Front Hak Asasi Manusia Sipil, penyelenggara sejumlah protes terbesar tahun lalu. Front ini telah menyerukan kepada para penduduk Hong Kong untuk “mengenang Juni”.

Para demonstran berkumpul di distrik pusat bisnis Hong Kong. Ratusan demontran tersebut menentang peringatan polisi soal tindakan melawan hukum. Aksi unjuk rasa kali ini merayakan satu tahun protes RUU ekstradisi ke China.

Para pengunjuk rasa mulai turun ke jalanan pada Selasa (9/6/2020) malam waktu setempat. Tak lama kemudia puluhan polisi dengan pakaian anti huru hara pun turun tangan dan membubarkan pengunjuk rasa.

Melalui akun Twitter, pihak kepolisian mengumumkan kali ini pihaknya menangkap sedikitnya 25 orang karena aksi yang tidak berizin. Dari video yang beredar, nampak petugas memberondongkan semprotan lada untuk membubarkan demontrasi.

Saat ini, pemerintah Hong Kong memperingatkan bahwa para pengunjuk rasa mungkin akan dinyatakan bersalah karena ambil bagian dalam “perkumpulan yang tidak sah” . Dan demontran teah melanggar aturan yang dirancang untuk mencegah dan mengendalikan Covid-19.

Hong Kong diketahui telah memberlakukan batasan jarak sosial (social distancing) setelah Virus dari Wuhan China menyebar. Kebijakan jarak sosial (social distancing) demi membendung lajunya pandemi virus corona jenis baru yang mematikan itu.

Sebelumnya, pada hari yang sama, ratusan orang berkumpul di mal-mal kota saat jam makan siang. Kerumunan orang tesebut meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah dan membentangkan spanduk.

Aksi massa menentang RUU ekstradisi ke China dimulai pada 9 Juni 2019, Lalu demontrasi ini berlanjut hingga berbulan-bulan lamanya. Gerakan pro-demokrasi ini membawa bekas jajahan Inggris itu ke dalam salah satu krisis terbesarnya.

Demonstrasi yang diawali dengan damai berubah menjadi kerusuhan ketika pemerintah setempat terkesan mengabaikan tuntutan pengunjuk rasa. Pihak kepolisian sampai dikerahkan dengan berbagai persenjataannya. Korban jiwa pun berjatuhan terutama dari kalangan pelajar.

Meski RUU kontroversial tersebut telah ditarik, massa kembali menggelora dalam beberapa pekan terakhir di tengah upaya China untuk memberlakukan Undang-Undang Keamanan Nasional yang menimbulkan kekhawatiran tentang otonomi pusat keuangan ini di masa depan.
sumber : SCMP