IPW Bandingkan Kasus Burung Walet Bengkulu Dengan Penyiraman Novel Baswedan

Ketua Presidum IPW, Neta S Pane
Ketua Presidum IPW, Neta S Pane

Jakarta, Sayangi.com – Terdakwa kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette dituntut satu tahun penjara. Jaksa menilai keduanya terbukti melakukan penganiayaan berat terhadap Novel.

Jaksa Fedrik Adhar yang memimpin sidang tersebut, hal yang meringankan para terdakwa adalah karena keduanya dinilai kooperatif dan mengabdi sebagai anggota Polri selama 10 tahun.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menilai tuntutan itu sudah sebanding karena kasus penyiraman Novel. Bahkan ia membandingkan kasus tersebut dengan kasus yang pernah menjerat Novel saat masih bertugas di institusi Polri.

“Bandingkan dengan kasus yang melilit Novel di Bengkulu, di mana Novel menjadi tersangka kasus pembunuhan,” ujar Neta saat dikonfirmasi, Jumat (12/6).

Kedua terdakwa penyiraman, menurut Neta, lebih kesatria karena berani mengakui perbuatannya. Hal ini bertolak belakang dengan sikap  Novel yang selalu berdalih untuk menghindari pengadilan kasus pembunuhan yang dituduhkan padanya.

“Seharusnya Novel berjiwa besar menyelesaikan kasusnya di pengadilan dan jangan bersikap kerdil,” sindir Neta.

Sebelumnya, Novel Baswedan mengaku telah menduga bahwa vonis yang diterima oleh pelaku penyiraman air keras tidak akan berat. Menurutnya, proses hukum terhadap kedua terdakwa hanyalah formalitas.

“Hal itu sudah lama saya duga, bahkan ketika masih diproses sidik dan awal sidang. Walaupun memang hal itu sangat keterlaluan karena suatu kebobrokan yang dipertontonkan dengan vulgar tanpa sungkan atau malu,” ujar Novel saat dikonfirmasi wartawan.