Pertemuan HAM PBB Kali Ini Fokus Pada Rasisme Dan Kekerasan

Ilustrasi Dewan Ham PBB bersidang di Jenewa. Foto Getty Image
Ilustrasi Dewan Ham PBB bersidang di Jenewa. Foto Getty Image

Jenewa,Sayangi.com- Dalam beberapa hari mendatang, Dewan Hak Asasi Manusia PBB dihadapkan pada sejumlah masalah penting yang belum terselesaikan ketika sidang ditunda bulan Maret lalu akibat COVID-19. Pertemuan yang dibuka pada Senin (15/6), akan menggunakan mekanisme, yang disebut sebagai pendekatan hybrid, kombinasi dari presentasi baik secara langsung maupun virtual.

Untuk memastikan keamanan para peserta selama pandemi virus corona, para pejabat PBB menyatakan beberapa langkah jarak sosial akan diberlakukan secara ketat.

Presentasi sejumlah laporan dan dialog interaktif terkait isu-isu hak asasi manusia (HAM). Laporan kali ini akan melibatkan para ahli yang hadir secara fisik atau dalam konferensi melalui video. Negara-negara yang akan ditinjau termasuk Republik Demokratik Kongo, Mali, Ukraina, Libya, Afghanistan, dan Republik Afrika Tengah. Utama Dewan HAM PBB.

Salah satu agenda pertemuan selama seminggu itu adalah debat penting yang mendesak mengenai rasisme sistematis di Amerika. Peristiwa ini yang dipicu dengan pembunuhan warga keturunan kulit hitam George Floyd ketika berada dalam tahanan polisi.

Direktur Human Rights Watch di Jenewa, John Fisher menyebut hal tersebut menjadi sebuah momen yang penting di Amerika. Dilansir dari VOA Senin (15/6) Fisher mengatakan peristiwa itu kemungkinan dapat dipergunakan beberapa negara untuk mendorong isu serupa di negara masing-masing.

“Kami juga sangat prihatin pada China yang berusaha untuk memanfaatkan kekacauan global. Dan kerusuhan di Amerika, oleh China digunakan untuk menumpas kebebasan di Hong Kong. Kepada banyak negara, kami menyerukan memberi lebih banyak perhatian pada Hong Kong. Kalau tidak, China akan lebih berani untuk bertindak lebih jauh,” ujar Fisher.