Diduga Libatkan Dian Rachmawan, JARAK Sebut Pengadaan Server Infrastructure Supply Berpotensi Rugikan Negara

Kantor pusat PT. Telkom Indonesia Tbk

Jakarta, Sayangi.com – Kabar tak sedap kembali menyeret nama Dian Rachmawan yang pernah menjabat sebagai Direktur Telkom selama lima tahun. Saat menjabat Direktur Enterprise dan Business Service, Dian Rachmawan disinyalir melakukan pengaturan proses order sampai dengan penunjukan vendor pengadaan server infrastructure supply bersama dengan sang adik yang berinisial “G”.

Koordinator Jaringan Relawan Anti Korupsi (JARAK) Indra Gunawan menjelaskan, hal ini diawali dengan adanya permintaan pengadaan server infrastructure supply pada Januari – Februari 2017, yang masuk ke anak perusahaan Telkom yang berada dibawah kendali penuh Dian Rachmawan yakni PT. Sigma Cipta Caraka, dari pelanggan yang bergerak di bidang pertambangan.

“Untuk memenuhi pengadaan server infrastructure supply, PT. Sigma Cipta Caraka menunjuk PT. Granary Reka Cipta yang mempunyai background di bidang arsitektur dan desain interior sebagai vendor. PT. Granary Reka Cipta diindikasikan mempunyai hubungan dengan “G”, adik dari Direktur Enterprise dan Business Service saat itu, Dian Rachmawan,” ujar Indra dalam keterangannya.

Kemudian, sambung Indra, melalui Berita Acara Serah Terima (BAST) fiktif yang berpotensi menjadi fraud karena ada beberapa pekerjaan yang tidak sesuai, PT. Sigma Cipta Caraka sudah membayarkan semua kewajiban kepada PT. Granary Reka Cipta selaku vendor sebesar Rp 236,6 miliar yang diduga atas perintah Dian Rachmawan. Padahal pelanggan baru membayar sebesar Rp 99,9 miliar kepada PT. Sigma Cipta Caraka. Seharusnya PT. Sigma Cipta Caraka baru bisa melakukan pembayaran penuh ke PT. Granary Reka Cipta jika pelanggan juga telah melakukan pembayaran penuh.

“Berdasarkan pembayaran pelanggan sebesar Rp 99,9 miliar dari total Rp 266 miliar, terdapat potensi kerugian PT. Sigma Cipta Caraka sebagai perusahaan dan juga potensi kerugian negara sebesar Rp 166 miliar, mengingat tempo pembayaran sesuai kontrak sudah terlewati dua tahun. Dikarenakan indikasi awal bahwa ini adalah kontrak dengan pekerjaan fiktif yang diatur oleh Dian Rachmawan dan “G”, tidak ada aset yang bisa dijadikan jaminan,” paparnya.

Indra menjelaskan, PT. Granary Cipta Reka dikenal sebagai vendor interior untuk sebagian besar anak perusahaan yang ada di lingkungan Direktorat Enterprise dan Business Service yang dipimpin oleh Dian Rachmawan.

Sebelumnya saat menjabat Direktur Consumer Service, Dian Rachmawan melakukan kerjasama pengembangan dan penyediaan aplikasi Movin tahun 2016 yang dapat disinyalir sebagai tindak pidana korupsi karena berpotensi merugikan keuangan Telkom/ Negara lebih dari Rp 60 miliar.

Berdasarkan indikasi-indikasi tersebut, kata Indra, patut diduga terjadi sarat permainan yang sudah diketahui oleh para pegawai di Direktorat yang dipimpin Dian Rachmawan.

“Tindakan Dian Rachmawan dapat dikategorikan tindak pidana korupsi, jika sudah memenuhi unsur-unsur perbuatan melawan hukum, penyalahgunaan kewenangan, kesempatan atau sarana memperkaya diri sendiri, orang lain atau korporasi, merugikan keuangan Negara. Sesuai informasi yang berkembang beberapa waktu lalu, tentunya hal ini mendapat perhatian serius dari Kejaksaan Agung,” pungkasnya.