Kremlin Sambut Upaya AS Guna Mediasi Konflik Libya

Presiden AS Donald Trump dan Vladimir Putin (kanan) Presiden Rusia. Foto The New York Revew Book
Presiden AS Donald Trump dan Vladimir Putin (kanan) Presiden Rusia. Foto The New York Revew Book

Johanesberg, Sayangi.com- Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia, Rabu (17/6) mengatakan akan menyambut segala upaya Amerika untuk menggunakan pengaruhnya terhadap Turki. Hal ini dalam rangka menyusun gencatan senjata di Libya.

Pada posisi ini Turki dan Rusia mendukung pihak-pihak yang bersengketa dalam perselisihan yang semakin keras. Minggu lalu Turki menolak rencana gencatan senjata yang diajukan Jenderal Khalifa Haftar yang didukung Mesir. Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavuşoğlu mencela bahwa jenderal itu hanya menginginkan gencatan senjata karena kalah di medan perang.

Çavuşoğlu mengatakan prakarsa gencatan senjata yang disuarakan Presiden Mesir Abdel-Fattah el-Sissi, “sudah mati sebelum dijalankan. Pasukan komando wilayah timur dukungan Rusia bulan lalu terpaksa menghentikan pengepungan 14 bulan atas ibukota Libya Tripoli.

Situasi ini menyusul peningkatan besar-besaran dukungan militer Turki terhadap pemerintahan di Tripoli yang diakui secara internasional. Lavrov dan Menteri Pertahanan Rusia tiba-tiba membatalkan rencana kunjungan hari Minggu ke Turki.

Sikap itu untuk mengupayakan perundingan gencatan senjata. Sebagian diplomat Barat menafsirkan permintaan Lavrov pada Amerika sebagai suatu perubahan besar bagi Rusia. Sejarah mencatat di masa lalu Rusia mengkritik keterlibatan Barat di Libya, sebagai tanda meningkatnya kekesalan di Moskow atas merosotnya kekuatan Haftar di medan perang.

Saat ini pemerintah resmi Libya mengancam untuk bergerak ke wilayah timur yang dikuasai Haftar. Dab kondisi ini memicu serangan atas kota pesisir Sirte. Wilayah Sirte terletak di antara Tripoli dan Benghazi, markas Jenderal Haftar.

sumber: VOA news