Webinar PGK: Perlu Penguatan Identitas Nasional Agar Cepat Keluar dari Krisis

Webinar DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) bertajuk "Pandemi Covid-19 dalam Perspektif Agama dan Kebudayaan" yang dilaksanakan secara virtual, Selasa (7/7/2020) malam.

Jakarta, Sayangi.com – Penyebaran virus corona di seluruh dunia telah menimbulkan disrupsi di berbagai aspek kehidupan di seluruh dunia, mulai dari kesehatan, politik, hingga agama. Virus ini pada akhirnya bisa menunjukkan kualitas suatu bangsa. Negara yang memiliki identitas nasional kuat cenderung lebih siap dan punya daya tahan menghadapi krisis, sebaliknya negara yang identitas nasionalnya rapuh meskipun itu negara adidaya selevel Amerika Serikat terlihat terhuyung-huyung berhadapan dengan virus corona.

Demikian pandangan yang mengemuka dalam Webinar DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) bertajuk “Pandemi Covid-19 dalam Perspektif Agama dan Kebudayaan” yang dilaksanakan secara virtual, Selasa (7/7/2020) malam.

Webinar yang dipandu oleh Ketua Umum PGK Bursah Zarnubi ini menghadirkan narasumber yaitu Guru Besar UIN Syarif Hidyatullah Jakarta Azyumardi Azra, Cendikiawan Yudi Latif, Cendikiwakn Daniel Dhakidae, dan Budayawan Radhar Panca Dahana.

Profesor Azyumardi Azra menggarisbawahi terjadinya kekacauan atau disrupsi yang ditimbulkan oleh virus Covid-19 terhadap bebagai aspek kehidupan manusia. Dalam bidang keagamaan, kekacauan yang terjadi setidaknya bisa dikelompokkan dalam tiga hal. Pertama terkait keimanan dan teologi, kedua akibat perbedaan pandangan dari fungsionaris agama, dan ketiga akibat kebijakan dari pemerintah yang berbeda-beda.

Dalam hal keimanan dan teologi, kekacauan terjadi pada tiga rukun islam, yaitu shalat, zakat dan haji. Azyumardi menekankan, meski ritual ibadah terganggu dan tidak berlangsung seperti biasa namun tidak sampai terjadi deritualisasi terhadap praktik ibadah umat Islam.

“Ibadah shalat tidak ditinggalkan, itu cuma dialihkan tempatnya melalui doktrin keagamaan baru, melalui ijtihad baru. Jadi sama sekali tidak terjadi deritualisasi. Karena ritualnya tetap ada cuma dikerjakan di rumah. Terjadi penyesuaian terhadap pelaksanaan ibadah ritual,” kata Azyumardi.

Dalam konteks teologi ini, Azyumardi menilai kepercayaan sebagian umat Islam yang menganut faham jabariyah yang fatalistik juga mempengaruhi cara pandang mereka terhadap virus Corona. Bagi mereka percaya pada Qada dan Qadar berarti setiap orang sudah digariskan kehidupannya sehingga tinggal menjalani saja dan tak perlu takut virus corona.

“Bagi mereka tidak usah takut sama Corona, shalat saja di masjid. Kok takutnya sama corona, takutlah sama Tuhan. itu kan teologi Jabariyah begitu,” kata Azyumardi.

Faham seperti ini tidak hanya terjadi di umat Islam saja, tetapi juga di kalangan gereja bagi penganut Kristen fundamentalis sebagaimana terjadi di Amerika yang menolak memakai masker maupun mematuhi protokol kesehatan lainnya.

Kekacauan yang diakibatkan oleh perbedaan pandangan fungsionaris agama juga terjadi di era pandemi covid-19 ini. Menurut Azyumardi, meskipun sudah ada fatwa dan bimbingan ibadah dari lembaga keagamaan seperti MUI, namun tetap ada orang orang yang tidak mau mengikuti. Untuk menjembatani perbedaan ini Azyumardi meminta agar dialog diintensifkan.

Hal terakhir yang turut memicu kekacauan dalam bidang keagamaan adalah kebijakan dari pejabat pemerintah yang berbeda satu sama lain.

“Misalnya Presiden melarang mudik saat hari raya idul fitri, namun Menko Maritim dan Investasi membolehkan angkutan umum tetap beroperasi mengangkut penumpang mudik,” katanya.

Sementara itu, cendikiawan muslim Yudi Latif mengatakan virus corona telah menjadi instrumen untuk menguji kekuatan nasional suatu bangsa. Meskipun varian virusnya sama, tapi dampaknya ke berbagai negara itu beda-beda. Ada negara yang sangat parah, ada juga negara yang dengan cepat bisa recovery.

Menurut Yudi, Negara dengan identitas nasional (national identity) yang kuat cenderung lebih siap dan punya daya tahan menghadapi krisis. Identitas nasional dibangun atas semangat berbagi pengalaman, share values dan berbagi kebanggaan di antara anak bangsa. Taiwan, Jepang, Korsel, dan Jerman merupakan contoh negara dengan national identity yang kuat dan terbukti mampu lebih cepat mengatasi pandemi corona.

“Jadi negara-negara dengan national dignity, kebanggaan nasional yang kuat itu biasanya jauh lebih memiliki ketahanan menghadapi berbagai cobaan. Kita lihat misalnya Jepang dan Jerman sudah berkali-kali jatuh namun berhasil bangkit. Kita juga lihat negara yang identitas nasionalnya rapuh meskipun merupakan negara adidaya kayak Amerika, tidak berkutik di dahadapan corona ini,” jelas Yudi.

Virus corona ini, menurut Yudi, benar-benar menelanjangi national strength dan national identity Amerika, tenunan sosial robek bahkan isu-isu SARA kembali mengemuka.

Lantas bagaiman dengan Indonesia?

Menurut Yudi, pandemi ini benar-benar menunjukkan taraf nasional kita berada pada level dan kualitas seperti apa. Ketika mestinya seluruh elemen bangsa merapatkan barisan karena dihadapkan pada ancaman yang sama tapi justru kita masih saja gaduh, bertengkar saling menyalahkan, dan saling menegasikan satu sama lain.

“Bahkan yang lebih buruk lagi, di masa pandemi yang memerlukan identitas nasional yang kuat ada RUU tentang ideologi negara yang mestinya berada di dalam simpul untuk menguatkan identitas nasional. Itu pun semakin menambah kegaduhan di ruang publik. Kita tidak memiliki kesanggupan untuk menjadi perekat bahkan justru semakin memecah-belah ketahanan nasional kita,” kata Yudi.

Yudi menegaskan, Covid-19 telah menunjukkan pada bangsa Indonesia apa yang salah selama 20 tahun reformasi ini, di mana semua otoritas ambruk dan kita satu sama lain saling mengkhianati.

“Kita mengalami distrust. Rasa saling percaya pudar, sumpah dan keimanan disalahgunakan, kebaikan dimusuhi kejahatan diagungkan. Padahal modal sosial jauh lebih penting ketimbang seberapa banyak investasi yang masuk,” kata Yudi.

Perspektif Kebudayaan

Sementara itu cendikiawan Daniel Dhakidae menilai virus corona telah menebarkan ketakutan dan kecemasan (Fear and anxiety). Masyarakat yang paling merasakan kecemasan adalah terutama mereka yang tinggal di perkotaan.

Di dunia sekolah dari sisi kebudayaan, kata Daniel, anak-anak usia sekolah dasar dan menengah paling merasakan dampak dari virus ini dimana mereka dipaksa sekolah di rumah (schooling at home) dengan menyatukan prinsip education dan schooling, dua hal yang secara teoritis berbeda. Dengan sekolah di rumah, anak-anak dihalangi dari faktor kebudayaan yang terindah yaitu relasi sosial antara anak dengan anak maupun anak dengan guru.

“Kehidupan sedentaire yang dipaksakan oleh corona itu menyiksa anak-anak terutama SD, SMP, dan SMA. Karena mereka merasakan sesuatu di luar alamiah yang dipaksakan oleh penyakit, pdahal mereka memerlukan kebersamaan. Sekolah yang fungsinya menghapus distance¬†karena virus malah diminta untuk menjaga distance,” kata Daniel.

Pada kesempatan yang sama, budayawan Radhar Panca Dahana menilai virus corona telah membuka mata bahwa sebenarnya manusia itu rapuh. Dia menyoroti kerapuhan yang dialami anak muda indonesia terutama dari sisi mental dan spritual.

Menurut Radhar, anak muda tidak lagi memiliki keyakinan yang kuat soal iman dan ibadah. Bahkan cenderung menunjukkan ada keraguan soal keesaan tuhan dan keimanan.

“Anak muda mudah berubah imannya, dan mengalami agnotisme dalam kehidupan beragama, terutama di perkotaan,” kata Radhar.

Posisi tradisional yang dipahami sebagai agama, kata Radhar, kini mengalami cobaan karena tidak menambah kekuatan tauhid dan keimanan di tengah masyarakat, malah semakin merosot.

“Adanya lembaga sosial keagamaan tidak membuat mereka kuat iman dan ibadahnya. Situasi ini menjadi tantangan besar dalam kebudayaan kita, karena kebudayaan itu bagian dari konservatisme atau tradisionalisme yang dipertahankan sejak ribuan tahun dan sekarang sudah terkikis,” demikian Radhar Panca Dahana.